Opini Publik
Menjadi Kartini Masa Kini
Perempuan berpendidikan selain mandiri juga harus berperan dengan baik pada keluarga dan masyarakat.
OLEH : Dr Hj Noorbaity, MPd
KB Wirawati Catur Panca Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP tahun Hari Kartini selalu diperingati dengan berbagai kegiatan. Terutama bagi para ibu di negeri tercinta ini. Kita semua tentu tahu siapa dia pada masanya dan pada saat ini.
Berbagai kegiatan dalam peringatan tersebut merupakan penghargaan untuk perjuangan beliau memajukan perempuan Indonesia. Pada masanya Kartini telah membuka wawasan untuk berpikir bagaimana supaya perempuan Indonesia tidak terbelenggu oleh keadaan saat itu, namun harus terlepas dari fenomena yang mengikat kaum perempuan, agar lebih maju dan mempunyai hak yang sama dengan kaum lak-laki.
Surat-surat Kartini untuk teman-temannya di Belanda sangat memaknai perjuangannya, terutama agar perempuan memiliki hak dalam pendidikan dan dapat berperan aktif di masyarakat. Akhirnya terhimpun pemikiran-pemikirannya dalam buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Emansipasi atau persamaan hak perempuan dan laki-laki berhasil Kartini perjuangkan dan sekarang lebih dikenal dengan istilah penyetaraan gender. Beliau memang berkemampuan lebih pada masanya dan telah memikirkan terntang kaumnya. Perempuan saat itu masih dipandang sebelah mata sebagai kaum lemah, karena di masyarakat masih bernuansa budaya patriarki dan saat itu kita berada di bawah kolonialisme Belanda.
Gagasan Kartini membuka kesadaran masyarakat maupun penguasa, bahwa perempuan mempunyai kemampuan dan hak yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan.
Selain Kartini tokoh perempuan yang juga berkiprah untuk kaumnya adalah Dewi Sartika yang lahir 4 Desember 1884. Sejak masa muda beliau sudah berpikir tentang pendidikan kaum perempuan. Tahun 1904 beliau mendirikan Sekolah Perempuan. Pada sekolah tersebut diajarkan membaca dan menulis serta keterampilan dan tata krama atau etika.
Perempuan berpendidikan selain mandiri juga harus berperan dengan baik pada keluarga dan masyarakat. Tahun 1966 pemerintah memberikan penghargaan kepadanya sebagai pahlawan nasional.
Tokoh selanjutnya adalah Maria Walanda Maramis yang berasal dari tanah Minahasa dan diakui sebagai pelopor pergerakan perempuan dari timur Indonesia. Beliau mendirikan organisasi yang memprjuangkan pendidikan perempuan dan memberi jalan untuk kesetaraan di bidang pendidikan dan politik.
Demikian pula Ruhana Kuddus dari Sumatra Barat. Sebagai seorang wartawati beliau membentuk Sounting Melajoe pada tahun 1912, merupakan media yang memberikan tempat untuk gagasan perempuan yang saat itu masih didominasi kaum laki-laki. Tulisannya menyampaikan tentang pendidikan, pernikahan dini, dan hak kaum perempuan dalam berkarier.
Kartini Masa Kini
Pada era milenial ini kaum perempuan sebagai Kartini masa kini dituntut lebih jauh lagi perannya sesuai dengan keadaan zaman seperti saat ini. Tuntutan pendidikan lebih beragam, tidak hanya dalam ranah ilmu pengetahuan dan keterampilan saja. Berbagai masalah yang harus mampu dihadapi oleh kaum perempuan dalam kesetaraan yang sama dengan kaum laki-laki.
Perempuan tangguh selain berpendidikan, berdaya guna dan menjalankan semangat Kartini di era modern ini. Mereka melalukan inovasi, menyetarakan gender, berjiwa sosial, mampu berkarya di berbagai bidang terutama bidang pendidikan, selanjutnya teknologi dan pemerintahan. Dalam dunia pendidikan dan kemandirian Kartini muda dituntut memiliki semangat belajar yang tinggi, memanfaatkan kesetaraan untuk berprestasi. Mereka menjadikan pembelajaran sepanjang hayat (long life education). Selanjutnya memanfaatkan teknologi untuk berproduksi dan berani bersuara di media sosial secara positif (peran Kartini muda di era digital saat ini).
| Kartini dan Bias Algoritma: Tantangan Kesetaraan Baru, Refleksi Hari Kartini 2026 |
|
|---|
| TKA dan Prestasi Akademik Siswa |
|
|---|
| Menjaga Stabilitas di Tengah Gejolak Global, Sinergi Kebijakan Menuju Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen |
|
|---|
| Emas Vs Perak, Bisakah Perak Gantikan Emas Jadi Instrumen Investasi |
|
|---|
| Polemik Penentuan Lebaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Dr-Hj-Noorbaity-MPd-KB-Wirawati-Catur-Panca-Provinsi-Kalsel.jpg)