Opini Publik

Tragedi Bekasi dan Faktor Manusia

DI tengah situasi ekonomi global yang galau, tetiba kita dikagetkan dengan kecelakaan kereta api yang merenggut nyawa tidak kurang dari 15 orang

Tayang:
Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/Istimewa
Dr Nugroho Dwi Priyohadi, MSc., MH, Alumni S3 Universitas Airlangga dan Port Management WMU Swedia, Dosen STIAMAK Barunawati Surabaya. 

Ketiga, Faktor Individu (unskill people). Hal ini berkaitan dengan tingkat pengetahuan, masa kerja atau usia, keterampilan, serta sikap kerja yang kurang disiplin.  

Individu yang memang, dalam bahasa awam “IQ-nya tidak menjangkau”, intelegensi rendah, akan tampak dalam perilaku tidak disiplin, sering melanggar aturan, dan dalam bentuk spesifik justru bangga bisa menerobos palang pintu kereta api yang akan lewat.

Banyak tayangan CCTV menunjukkan betapa sebagian oknum masyarakat ber “IQ tidak menjangkau”, sering melanggar aturan dan tidak peduli keselamatan diri maupun orang lain.

Teori Domino

H.W. Heinrich, peneliti kesohor yang menyampaikan Teori Domino) menyebutkan bahwa 88 persen penyebab kecelakaan kerja adalah tindakan tidak aman (unsafe acts) dari manusia/pekerja. Teori ini menempatkan kelalaian manusia sebagai faktor utama dalam rangkaian efek domino kecelakaan.

Sementara itu  James Reason (Swiss Cheese Model), menjelaskan bahwa kecelakaan terjadi bukan karena satu kesalahan tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa kegagalan (failure) termasuk unsafe acts atau human error  yang menembus pertahanan system keselamatan.

Lebih lanjut, peneliti lain yakni Frank Bird Jr. mengatakan bahwa meskipun ada teori domino Heinrich, namun peneliti ini lebih fokus pada manajemen yang memungkinkan human failure terjadi,  dengan  tetap mengakui tindakan manusia sebagai penyebab langsung.

Konteks pembahasan dalam safety research, dikenal adanya error (intensi tidak sengaja), dan violation (kesengajaan).

Meski demikian, dalam konsepsi Human Failure Taxonomy atau taksonomi dalam kegagalan manusia,  sebagian besar manusia pasti akan mengatakan “saya tidak sengaja menimbulkan kecelakaan”, padahal perilaku dan sikapnya sebenarnya “ada intensi mengarah adanya penyebab kecelakaan”.

Apalagi jika kita mengedepankan konsepsi kultural lokal, yang namanya kecelakaan adalah sudah menjadi kehendak Hyang Maha Kuasa.

Konsep yang tidak sepenuhnya salah, namun sangat berbahaya karena digunakan para pelaku kejahatan kecelakaan (menerobos palang, tidak menggunakan helm, tidak patuh rambu-rambu lalu lintas, dan sejenisnya), sebagai alasan ketika kecelakaan terjadi.

Pendidikan dan Sosialisasi Tanpa Henti

Sejatinya solusi atas problem manusia sangat jelas: pendidikan dan sosialisasi atas keselamatan tanpa henti. Namun memang perlu syarat yang tidak mudah. Terutama, bagaimana mencegah tumbuhnya generasi yang tidak peduli keselamatan, mengurangi ketidakpahaman manusia atas kepatuhan rambu-rambu lalu lintas, dan meningkatkan disiplin pengguna jalanan.

Pendidikan agama dan moral hendaknya semakin ditegaskan, tidak sekedar menyelamatkan manusia dari siksaan neraka di alam kekal, namun juga bagaimana mencegah manusia mencelakai manusia lain di dunia ini.

Menyitir petuah Gus Baha, ilmuwan muslim yang kesohor di banyak kajian peradaban, justru dunia ini lebih penting daripada akhirat. Sebab, menurut Gus Baha, bagaimana kondisi kita di akhirat, tergantung kualitas hidup kita di dunia ini.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved