Tajik

Inovasi Menjaring Siswa Baru

Beberapa sekolah negeri di Banjarmasin dan sejumlah daerah lain di Kalsel, terutama di pinggiran, kerap kekurangan pendaftar.

Tayang:
Editor: Ratino Taufik
Banjarmasin Post/Mukhtar Wahid
BELAJAR - Guru dan beberapa siswi menjalani proses mengajar belajar di SMA Islam Darul Muhibbien di Jalan A Yani Km 84 Haruban, Desa Tungkap, Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin. Penurunan jumlah peserta didik baru juga terjadi di SMA Islam Darul Muhibbien. Sekolah swasta ini hanya mampu membuka satu rombel dari sebelumnya tiga. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Tahun ajaran baru, 2026-2027, tinggal beberapa bulan lagi. Sekolah swasta di Kalimantan Selatan mulai menjaring peserta didik baru. Harapannya, semakin panjang waktu penerimaan, semakin banyak peserta didik didapat. Apalagi sekolah swasta harus bersaing dengan sekolah negeri.  Jika sekolah negeri mulai membuka penerimaan peserta didik baru, maka pendaftaran di sekolah swasta dipastikan sepi. Pendaftar kembali muncul kemudian, setelah tidak diterima di sekolah negeri.

Sedang sekolah negeri akan menggelar penerimaan secara serentak. Sistem zonasi, prestasi, afirmasi dan mutasi diterapkan. Untuk zonasi, siapa yang paling dekat rumahnya dengan sekolah, itulah yang diterima. Untuk prestasi, tentu saja pendaftar harus memiliki prestasi baik akademik atau nonakademik. Adapun afirmasi, sekolah memiliki kewajiban menerima pendaftar dari keluarga tidak atau kurang mampu di sekitarnya. Sedangkan mutasi, adalah menerima peserta didik yang orangtuanya pindah bekerja dari daerah lain.

Kendati membuka banyak jalur, bukan berarti peserta didik baru mudah didapat. Beberapa sekolah negeri di Banjarmasin dan sejumlah daerah lain di Kalsel, terutama di pinggiran, kerap kekurangan pendaftar.

Setidaknya ada dua penyebab. Sekolah itu kekurangan siswa baru karena wilayahnya minim anak-anak. Faktor kedua adalah banyaknya sekolah di daerah tersebut sehingga persaingan mendapatkan siswa baru sangat ketat.

Tantangan yang sama dihadapi sekolah swasta. Apalagi jika perekonomian masyarakat di wilayahnya rendah. Banyak keluarga memilih menyekolahkan anaknya di sekolah negeri karena gratis, dibandingkan sekolah swasta yang menerapkan uang pendidikan.

Selain itu ada satu lagi penyebab berkurangnya pendaftar baik di sekolah swasta maupun negeri di Kalsel. Banyak orangtua memilih mengirim anaknya ke pondok pesantren untuk belajar agama. Hal ini karena pelajaran agama di sekolah umum dinilai sangat kurang. Ponpes juga mengajarkan kemandirian dan tidak banyak libur.

Memang kondisi ini menjadi tantangan bagi pengelola sekolah khususnya swasta. Sejumlah sekolah terus berupaya meningkatkan mutu dan melakukan inovasi hingga menarik minat orangtua menyekolahkan anaknya di tempat mereka. Tidak hanya belajar di kelas, banyak kegiatan ekstrakurikuler digelar. Beberapa sekolah bahkan menyatakan diri sebagai sekolah Islam. Kegiatan keagamaan pun digelar.

Hal-hal seperti ini membuat para orangtua tertarik. Mereka bahkan tidak ragu membayar lebih, bahkan mahal, demi pendidikan dan ahlak sang buah hati.

Jadi sekarang bukan saatnya sekolah, baik swasta maupun negeri, mengeluh bakal kembali kekurangan siswa. Soalnya persoalan ini ajek tiap tahun. Inilah saatnya berinovasi menjaring siswa baru. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved