Bila Pasangan Kita bukan Teman Curhat yang Baik
“Dia tergolong tenaga profesional dan pekerja sejati yang jarang dimiliki orang lain, biasanya kalau dia resign sudah ada bayangan kantor baru”
Penulis: Umi Sriwahyuni | Editor: Didik Triomarsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ketika memutuskan resign dari tempatnya bekerja, Ryno mendapat dukungan sepenuhnya dari sang istri. Boleh jadi lantaran alasan-nya yang berbau romantis: ‘Aku ingin tidak terlalu jauh dari kamu untuk waktu lama,” ujar Ryno kepada sang istri, Rima.
Ryno dalam waktu beberapa tahun terakhir ini harus bolak balik Kota Banjarmasin - Tarakan setiap dua bulan untuk bersama keluarganya sepekan.
Tetapi, menurut Rima, bukan hanya alasan yang sangat masuk akal itu, tetapi lebih karena dia sangat meyakini bahwa tak perlu waktu lama bagi sang suami untuk mendapatkan pekerjaan baru. Apalagi dia juga seorang PNS di sebuah isntansi pemerintah di Banjarmasin.
“Dia tergolong tenaga profesional dan pekerja sejati yang jarang dimiliki orang lain, biasanya kalau dia resign sudah ada bayangan kantor baru” ujar Rima.
Dan, selama menikah hampir sepuluh tahun, sudah dua kali sang suami resign dan selalu mendapat pesangon yang lumayan dapat menutup keperluan sambil menunggu pekerjaan baru. Bahkan, yang terakhir Ryno menyerahkan uang pesangon yang lebih besar.
Tentu saja ini membuat Rima sangat gembira. Dan, tanpa sepengetahun sang istri, Ryno sebenarnya menyembunyikan jumlah uang yang lainnya bahkan cukup besar.
“Ada sekitar Rp 80 juta yang tidak saya berikan ke Rima, aku ingin sebagai biaya untuk umrah bila sudah ada bayang-bayang pekerjaan baru,” ujar Ryno kepada saudaranya.
Inilah kebiasaan lama ayah dua anak ini, tidak selalu terus terang terhadap istri, Untuk banyak hal, dia bahkan memilih tidak berbagi cerita kepada Rima, dan memilih saudara untuk tempat curhat.
Untuk uang yang Rp 80 juta itu, contohnya, Ryno memilih ‘merahasiakannya’ karena khawatir keinginannya untuk umrah tidak disetujui sang istri mengingat baru saja resign. Kedua, dalam banyak pengalaman, untuk hal-hal yang kurang didukung istri, perbincangan sering memantik ribut.
“Badahal kami bertemunya hanya sepekan dalam dua bulan, jadi sangat sayang bila waktu sempit itu diisi dengan cek-cok pemikiran dan kata-kata. Biarlah kita jadi suami istri yang akur walau bukan pasangat curhat,” ujar Ryno memberikan alasan.
Bukan Ryno seorang yang tidak menempatkan pasangan hidupnya sebagai teman curhat yang baik. Budi juga demikian. Apalagi ayah seorang anak ini sifat dasarnya memang pendiam, dia merasa ada kendala untuk ceplas ceplos ke istri.
“Tetapi tidak dengan istri, dia bicaranya banyak hal saya anggap ‘remeh temeh’ juga diceritakannya ke saya, terkadang ada rasa bosan,” ujar Budi.
Sebenarnya, menurut pria ini, bukannya dia tidak nyaman atau tidak percaya dengan peran sang istri untuk dijaidkan sebagai pasangan curhat berbagai hal. Hanya saja tipe si istri yang ceplas ceplos kerap membuatnya ‘tidak enak hati’ ketika curhatnya ditanggapi berlebihan oleh sang istri bahkan justru terkesan menyalahkan, ujung-ujungnya.
“Ibaratnya, saya baru curhat di bagian mukadimah-nya, dia sudah langsung mengambil kesimpulan lalu mendikte bahkan memvonis sebagai kesalahan saya. Padahal saya butuh didengarkan, didukung kalau toh saya dalam posisi tidak benar, paling tidak jangan divonis, dengan kata-kata ceplas ceplos lagi,” papar Budi.
Walau toh demikian, seperti halnya Ryno si Budi juga mengaku ketertutupannya terhadap istri tidak menganggu hubungan baik sebagai suami istri. Mereka menganggap istri tak harus menjadi teman curhat yang baik. Masih banyak peran dan kebersamaan mereka yang menjadi perekat terbaik istana yang bernama ‘rumah tangga’.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/suami-istri_20160304_225411.jpg)