Renungan Menyambut Tahun Baru Islam 1438 H
Setelah kurang lebih tiga tahun baginda Rasul menyiarkan Islam di Kota Makkah secara sembunyi, turunlah perintah Allah SWT agar
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel
Setelah kurang lebih tiga tahun baginda Rasul menyiarkan Islam di Kota Makkah secara sembunyi, turunlah perintah Allah SWT agar beliau menyiarkan Islam secara terang-terangan. Beliau pun berdiri di bukit shafa memanggil kerabat keluarga, penduduk Makkah dan memproklamirkan diri sebagai Rasul.
Sekitar tiga belas tahun beliau menyiarkan Islam di Kota Makkah, tetapi tidak mendapatkan sambutan memuaskan. Penolakan datang dari para hartawan, pejabat dan penguasa; mereka khawatir kalau pembaharuan yang dibawa Muhammad dengan membawa Islam diterima oleh masyarakat, kedudukan dan kekuasaan mereka, bahkan bisnis mereka akan terancam.
Mereka pun menghalangi tersiarnya Islam dengan menghasut masyarakat umum, agar tidak menerima Islam. Mereka dengki mengapa pangkat kenabian itu diturunkan kepada Muhammad, bukan kepada mereka sebagai pembesar dan penguasa Makkah sekarang.
Di samping itu, pemikiran materialis keduniaan melekat erat di benak mereka, sukar dihapuskan dan mereka tidak mau tahu pemikiran akhirat.
Tantangan begitu berat bagi Nabi Muhammad SAW dan umat Islam di Makkah. Perintah hijrah pun datang. Tujuan hijrah adalah kota Yatsrib, sebuah kota di sebelah utara Makkah berjarak kurang lebih 500 km; karena di sana telah terbentuk masyarakat muslim yang setia dan bersedia menerima baginda Rasul dan pengikutnya.
Umat Islam pun berhijrah secara sembunyi-sembunyi; terakhir Rasulullah SAW ditemani Abu Bakar RA meninggalkan Makkah. Beliau disambut di Kota Yatsrib. Abdullah bin Salam meriwayatkan, manakala baginda Rasul tiba di kota itu, manusia berebut cepat untuk menemui beliau.
Aku pun ikut di antara mereka. Aku lihat dan aku perhatikan wajah Rasulullah, sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau beliau seorang pendusta. Aku dengar ucapan beliau, Ya ayyuhannas, afsyus-salam, wa ath’imuth-tha’am, wa alinul-kalam, wa shilul-arham, wa shallu bil-laili wannasu niyam, tadkhulul-jannata bisalam.
Artinya, “Wahai manusia, sebarkanlah perdamaian, berilah makanan, lembutkan perkataan, hubungkan silaturahim, dan dirikan salat di tengah malam di saat-saat manusia (orang-orang kafir) tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat”.
Inilah instruksi pertama baginda Rasul dalam membina masyarakat muslim. Inilah yang diperlukan oleh manusia kapan saja dalam kehidupan, karena mereka tidak bisa hidup sendirian, Annasu madaniyyun bith-thaba (manusia itu sudah fitrahnya hidup bersama), seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun.
Apa yang diperlukan dalam hidup bersama? Yang diperlukan adalah sabda baginda Rasul ini, yaitu: salam (perdamaian), ath’imuth-tha’am (keseimbangan ekonomi), alinul-kalam (keramahan hubungan komunikasi-informasi), shilul-arham (eratnya hubungan kekeluargaan), shallu bil-laili (mantapnya hubungan dengan Tuhan).
Hanya kurang lebih sepuluh tahun, beliau berhasil membentuk masyarakat muslim yang spesifik, yaitu: masyarakat gemar membaca (menuntut ilmu), menyukai kebersihan dan kerapian, memanfaatkan waktu dengan bekerja keras, ramah antarsesama dan tegas terhadap lawan, serta rajin salat berjemaah dan mantap beribadah. Yatsrib kemudian dijuluki dengan Al-Madinah Al-Munawwarah (kota yang cemerlang), karena dari situ muncul masyarakat idaman yang didambakan oleh kemanusiaan.
Kita sekarang berada di abad ke-21, semua serba super, tetapi kenyamanan hidup sukar didapat. Seyogianya kita mengadopsi dasar-dasar hidup bermasyarakat yang disabdakan oleh baginda Rasul, kendati ia hidup di zaman unta.
Inikah juga mengapa Allah SWT berfirman, Afala yandzuruna ilal-ibili kaifa khuliqat, artinya “maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan?” (QS. al-Ghasyiyah :17).
Tulisan ini bukan mengajak kita ke zaman unta; tetapi beranjak dari ucapan Rasul kendati hidup di zaman unta. Kita harus mengangkat muka merenungi alam semesta, bukankah ayat berikutnya Allah berfirman, Wa ilas-sama’i kaifa rufi’at (dan langit bagaimana ia ditinggikan). Tetapi jangan terlalu menengadahkan mata ke langit, lihatlah hamparan bumi, karena kita hidup di bumi yang berpasak gunung; bukankah firman Allah selanjutnya, wa ilal-jibali kaifa nushibat, wa ilal ardhi kaifa suthihat (dan gunung-gunung bagaimana ia ditinggikan, dan bumi bagaimana ia dihamparkan).
Manusia sekarang jangan hanya membabat permukaan bumi dan mengeruk isi bumi, tapi adakah ia memakmurkannya? Selamat tahun baru Islam 1438 H. (*)