Tajuk

Memasyarakatkan Mobil Listrik

Pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia khususnya mobil berkembang pesat dengan dominasi merek asal Cina dan Korea Selatan.

Editor: Ratino Taufik
PT PLN Persero UID KSKT
MOBIL LISTRIK- Salah satu mobil listrik yang sedang melakukan pengisian baterainya di SPKLU milik PLN UID Kalselteng. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM tiga bulan terakhir (Januari-Maret) atau kuartal pertama 2026, perubahan signifikan terjadi di pasar otomotif. Penjualan produk otomotif berdaya listrik tumbuh pesat, tidak hanya roda dua tapi juga roda empat.

Pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia khususnya mobil berkembang pesat dengan dominasi merek asal Cina dan Korea Selatan. Merek terpopuler per 2026 meliputi BYD (Atto 3, M6, Seal), Wuling (Air EV, Binguo, Cloud), Chery (Omoda E5), Hyundai (Ioniq 5, Kona), MG, Neta, Jaecoo, GAC Aion, dan Geely. Tren ini menunjukkan pergeseran ke model yang lebih terjangkau dan berteknologi tinggi.

Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang energi ramah lingkungan, kenaikan harga BBM yang saat ini kian melonjak akibat adanya konflik geopolitik di Timur Tengah, menjadi beberapa pemicu naiknya penjualan otomotif listrik.

Ditambah pemerintah Indonesia memberikan insentif mobil listrik berupa PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) dan pembebasan bea masuk yang berakhir pada 31 Desember 2025 lalu. Selain itu adanya peningkatan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) oleh PT PLN (Persero). Hingga awal 2026, jumlah SPKLU yang telah beroperasi tercatat lebih dari 5.000 unit dan tersebar di seluruh Indonesia.

Dengan makin banyaknya jaringan SPKLU, juga akan membantu masyarakat merasa lebih percaya diri dan tenang dalam menggunakan mobil listrik. Hal ini juga akan membantu Indonesia bergerak menuju cara beraktivitas yang lebih ramah lingkungan.

Meskipun tren kendaraan listrik menawarkan emisi nol, biaya operasional/pajak lebih hemat, dan pengisian daya rumah, namun memang masih terdapat kontra terkait harga awal yang mahal. Selain itu durasi charging, hingga isu limbah baterai, serta perdebatan mengenai efektivitas subsidi yang berfokus pada kendaraan pribadi dibanding transportasi umum juga masih menjadi perdebatan.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindari. Indonesia pun harus siap memasuki era elektrifikasi untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak yang banyak digunakan oleh kendaraan konvensional saat ini.

Namun sebagai masyarakat yang juga konsumen, kita tentu berharap pemerintah tidak sekadar mendorong penjualan kendaran listrik dan menyiapkan infrastrukturnya. Daya beli masyarakat juga perlu diperhitungkan, agar program elektrifikasi ini mencapai tujuannya. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved