Tajuk

Kurban yang Ramah Lingkungan

Kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak tertentu sebagai wujud ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT, dilaksanakan Hari Raya Iduladha

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Banjarmasin Post/BL Roynalendra N
KURBAN (Foto Ilustrasi) - Kesibukan anggota Polres Tala bersama warga memotong daging kurban di halaman Masjid Nuruddin setempat, Rabu (27/5). 

BANJARMASINPOST.CO.ID- IDULADHA telah tiba. Umat muslim suka cita menyambutnya. Dalam ajaran Islam, kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak tertentu sebagai wujud ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT, yang dilaksanakan pada Hari Raya Iduladha (10 Zulhijah) hingga akhir hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah).

Datangnya Iduladha selayaknya disyukuri umat yang mungkin sangat jarang memakai daging sapi atau kambing.

Pada momen inilah, seluruh umat Islam bisa merasakan daging sapi dan kambing yang dianggap makanan mewah dan sulit dijangkau harganya bagi sebagian warga.

Di tengah kebahagiaan itu, satu persoalan yang muncul yakni limbah jeroan sapi dan kambing. Apalagi, jika pelaksanaan kurban itu di luar rumah potong hewan (RPH).

Seperti di Banjarmasin, sebagian panitia kurban mengaku jeroan hingga isi perut sapi memang tidak dibersihkan di lokasi penyembelihan, melainkan langsung dibawa warga yang sudah rutin mengambilnya setiap tahun.

Padahal, limbah organik seperti darah, jeroan, kotoran hewan, serta limbah anorganik seperti plastik pembungkus daging, bisa menjadi sumber penyakit dan pencemaran tanah, air, serta udara.

Hal ini perlu jadi perhatian pemerintah daerah untuk nantinya membuat langkah-langkah di momen selanjutnya.

Salah satu metode terbaik untuk menangani limbah organik dari proses kurban adalah dengan cara menguburnya.

Terutama bahan yang tidak dikonsumsi seperti darah, isi perut, dan organ dalam. Limbah bisa ditaburi kapur untuk mengurangi bau dan mencegah penyebaran penyakit oleh lalat.

Limbah hewan kurban juga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Limbah diolah di instalasi composting khusus dan ditutup dengan kompos serta tanah untuk mencegah bau.

Upaya ini juga mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Selain itu, pembungkus daging kurban jadi persoalan. Plastik sekali pakai masih sering digunakan untuk membungkus daging kurban. Padahal, limbah plastik sangat sulit terurai.

Yang pasti, perencanaan adalah kunci keberhasilan pelaksanaan kurban yang ramah lingkungan. Dikutip dari situs IPB University, Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), Hadri Latif menyarankan agar tempat penyembelihan disiapkan secara permanen atau semi permanen.

Jika memungkinkan, gunakan RPH yang memiliki fasilitas lengkap untuk pengolahan limbah. Pelaksanaan kurban tidak hanya menuntut ketertiban secara agama, tetapi juga kesalehan sosial dan ekologis. Mengelola limbah kurban dengan bijak merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved