Ibnu Kasir Kembangkan Budidaya Madu Putih di Tapin

Warga Desa Hatungun, Kecamatan Hatungun, Tapin itu mengatakan lebah madu dari kelulut itu ada tiga warna, yaitu agak kecoklatan, kuning dan putih.

Penulis: | Editor: Elpianur Achmad
banjarmasinpost.co.id/ibrahim ashabirin
Ibnu Kasir petani madu kelulut di Rantau Tapin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Ibnu Kasir adalah petani hasil hutan yang mengembangkan madu putih (bening) dari lebah kelulut.

Warga Desa Hatungun, Kecamatan Hatungun, Tapin itu mengatakan lebah madu dari kelulut itu ada tiga warna, yaitu agak kecoklatan, kuning dan putih (bening).

Madu warna putih dari kelulut ini sangat langka, sulit sekali mencari. Mencarinya pun harus ke dalam hutan.
Karena madu putih dari kelulut itu langka, maka harganya pun sangat mahal, Rp 600 ribu perliter.

Madu jenis ini, kata Ibnu, dipesan orang duluan, biasanya pembelinya dari Kaltim.

"Nanti kalau ada madu putih kelulut itu, Bpost akan saya telepon," jelas Ibnu yang rumahnya berjarak sekitar 40 kilometer dari kota Rantau itu.

Meskipun Ibnu hanya warga desa yang jauh dari keramaian kota, tetapi madu hasil penangkarannya sudah dikemasnya dalam bentuk botol ukuran kecil, sehingga harganya bisa terjangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved