Komunitas
Komunitas Ini Mengajarkan Satu Sunah Rasul
Komunitas yang dicetuskan oleh perkumpulan panahan secara otodidak ini, dibentuk untuk membangkitkan kembali olahraga memanah tradisional
Penulis: Khairil Rahim | Editor: Murhan
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Setiap Minggu pagi di halaman Masjid Mujahidin Cempaka selalu dipenuhi warga yang berkumpul. Beragam usia hadir jadi satu mulai dari anak kecil, remaja, dewasa hingga kakek dan nenek pun tampak terlihat.
Mereka datang untuk bergabung bersama berlatih memanah yang tergabung di komunitas Shilatul Arham Hasan Basri Archery Club atau yang biasa disingkat dengan nama SAHB Club.
Ketua SAHB Club, Muhammad Mutaqqin mengatakan komunitas ini adalah sebuah perkumpulan panahan tradisional bagi warga yang ingin belajar di kawasan Banjarbaru.
Awalnya lanjut Mutaqqin SAHB Club berdiri pada20 november 2016 di daerah kota Banjarbaru, hanya diikuti beberapa anggota saja yang.
Komunitas yang dicetuskan oleh perkumpulan panahan secara otodidak ini, dibentuk untuk membangkitkan kembali olahraga memanah tradisional yang sudah semakin sedikit diminati.
"Kini jumlahnya sudah banyak dan mereka semakin antusias sehingga jumlah terdaftarnya mencapai 50 orang namun yang biasa ikut mencapai 60 orang lebih," ucap dia.
Mutaqqin menerangkan, SAHB terbentuk berawal dari beberapa mahasiswa yang berkumpul dan ingin mengisi waktu agar dalam sepekan mereka bisa rutin mengadakan olahraga bersama.
Mereka sepakat untuk berlatih panahan, karena bukan hanya sekedar olahraga, belajar memanah juga termasuk salah satu sunnah.
Pada saat itu mereka hanya berlatih di halaman rumah di daerah Sungai Besar, Banjarbaru. Mulanya latihan biasa saja dan dengan peralatan sederhana buatan sendiri.
"Seiring berjalannya waktu, peminat yang ikut latihan di sana bertambah menjadi semakin banyak. Halaman rumahbuntuk tempat berlatih pun sudah tidak cukup lagi untuk menampung anggota yang baru mulai bergabung," kata dia.
Peminat yang semakin lama semakin banyak itu akhirnya menimbulkan ide untuk mereka agar serius saja untuk membuat sebuah klub dan mencari tempat baru yang sesuai untuk dipakai latihan.
Kepengurusan akhirnya dibentuk, mereka pun menunjuk pelatih yang mempunyai kompetensi di bidangnya serta memang sudah tersertifikasi untuk melatih memanah.
Sebagai komunitas baru dan terhitung mandiri, tentu saja ada kendala yang dimiliki "Siapa saja boleh bergabung, dari anak-anak hingga dewasa. Bagi yang belum mempunyai peralatan memanah sendiri tidak perlu khawatir, karena sudah disediakan oleh klub," ujar dia.
Kendalanya ujar Mutaqqin setiap bulannya anggota harus membayar iuran yang akan digunakan bersama untuk mengganti apabila ada peralatan yang rusak saat berlatih, misalnya busur patah, atau ada anak panah yang hilang.
"Harapan kami tentu saja ke depannya bisa memasyarakatkan olahraga panahan ini dan memudahkan bagi anggota baru untuk datang berlatih bersama," lanjut dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/shilatul-arham-hasan-basri-archery-club_20170531_155145.jpg)