Puisi Banjarmasin Post
Dentang dari Loji
Karya puisinya terbit dalam sejumlah antologi bersama, antara lain Simpang Lima (2009), Kembang Mata (2014), dan Ironi Bagi Perenang (2016)
Puisi-puisi Tjak S Parlan
Dentang dari Loji
Ia mendengar dentang dari loji
tiga kali. Segera dingin tembaga,
juga bau besi beku merasuk ke kamarnya.
Jam tidur telah sedemikain uzur,
dan umur tak sanggup mengukur dingin
yang datang dari masa lalu:
dingin yang telah melewati jembatan
gantung, ternak yang hanyut, tetangga yang
tenggelam di dasar jembatan, hantu noni-noni
yang gentayangan di pabrik kopi.
Ia mendengar dentang dari loji
tiga kali. Ia mendengar detak jantungnya,
jantung kampung halamannya.
..........
Selepas Hujan Ini
Aku akan pergi selepas hujan ini
dan kau pun akan berpura-pura lupa
pada setiap derainya menjelang reda
pada setiap kata-kataku yang patah:
satu dua satu dua
Aku akan pergi selepas hujan ini
dan kau boleh menutup pintu
sambil melepas punggungku
tertelan sepi pagar rumahmu
Aku akan sendiri selepas hujan ini
pada setiap langkahku yang lengang
merasakan ngilunya sekali lagi:
satu dua sepi
satu dua sepi
..........
Setelah Rinai Malam-malam Oktober
setelah rinai malam-malam oktober
subuh terus mengantuk
jalanan yang pernah kuceritakan padamu
tak bangun-bangun oleh derit gerobak cidomo:
kusir yang mengantuk,
kuda dan laki-laki yang baru pulang
tersuruk-suruk mabuk-mabuk
menjelang rumah di ujung gang
subuh semakin lengang
meski aku tetap pulang
hanya untuk menyaksikan
pintu yang kulupakan kuncinya
dan lampu di beranda
yang kerap lupa dimatikan
setelah rinai malam-malam oktober datang
aku membaca kisah-kisah itu lagi:
oedipus yang terlarang, sangkuriang mengusir tumang
dan pranacitra pun mati
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/banjarmasin-post-edisi-cetak_20170611_154019.jpg)