Cerpen Banjarmasin Post

Sangkal

Rasa heran para petugas itu terpancing. Sebab, walau menerima berita yang buruk dan mengejutkan, Trisno tak menunjukkan reaksi yang diharapkan.

Sangkal
Halaman 9 Banjarmasin Post Edisi Minggu (18/6/2017) 

Oleh : Dian Nangin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Tak ada yang lebih mengherankan orang-orang selain melihat perangai Trisno bersama Rayani, istrinya. Bayangkan, dia menikah di usia dua puluh dengan meminang Rayani yang hanya selisih dua tahun di bawahnya.

Usai menikah, Trisno membangun rumah kecil tepat di luar tembok tinggi yang membentengi sebuah bangunan megah berlantai tiga dimana ayah ibunya tinggal. Memilih bermukim di perkampungan kumuh yang selama ini hanya bisa dia lihat dari beranda kamarnya yang berada di lantai tertinggi.

Trisno tak ubahnya putra mahkota yang terusir dari istana. Namun kali ini kasusnya beda, sebab lelaki muda itu memutuskan sendiri untuk angkat kaki dari sana, tak peduli walau ibunya menahan dengan berurai air mata. Bersama istrinya, dia mengikat sebuah kesepakatan bagaimana mereka akan menjalani hidup ke depan. Dan, seorang istri yang baik pastilah menurut dan mendukung apa yang dipandang benar oleh suaminya.

Maka di sinilah mereka berakhir, di bawah atap seng tanpa plafon, berdinding papan, berlantai semen. Tentu keputusan itu menerbitkan kasak-kusuk dan gunjingan di kalangan tetangga yang selama ini tak pernah dia sapa walau mereka telah menahun tinggal di luar tembok tinggi itu.
“Pasti cuma mau cari simpati!”

“Kesambar jin kali, ya? Mana mungkin anak gedongan begitu mau turun kasta?”

Begitulah mulut demi mulut bergantian melontarkan prasangka. Namun, ada juga yang memilih tak peduli. “Mengurusi mereka tak akan membuat perut kenyang. Cuma bikin makin lapar, malah. Lebih baik kita kerja, cari makan.”

*****
Demikianlah pasangan muda itu memulai hidup baru mereka. Sesekali terdengar teriakan kecil Rayani. Barangkali dia kaget mendapati kecoa atau tikus sedang menjajah dapurnya.

Kehidupan Trisno dan Rayani kini bak sinetron di kehidupan nyata, selalu ada episode baru setiap hari. Apalagi setelah dua minggu tinggal di kawasan kumuh itu, datanglah orang-orang utusan ibu Trisno dengan rantang-rantang dan beragam kantongan. Tentulah sang ibu tak tahan melihat putra satu-satunya itu terasing dan menderita. Namun utusan itu selalu kembali dengan barang-barang yang utuh, sebab Trisno selalu menolak.

Puncaknya, perempuan elegan itu sendiri yang datang menyambangi.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved