Cerpen Banjarmasin Post
Sangkal
Rasa heran para petugas itu terpancing. Sebab, walau menerima berita yang buruk dan mengejutkan, Trisno tak menunjukkan reaksi yang diharapkan.
Itulah pemberian terakhir sang ayah yang dengan terpaksa Trisno terima. Setelah itu, dia tak mau terlibat lebih jauh lagi dengan sang ayah mengenai uang. Bahkan tak sudi menjadi kandidat satu-satunya pewaris segala kekayaan lelaki itu.
“Ibu tidak mengerti...”
Perempuan itu menyusut air mata, mendapati perseteruan dua lelaki yang dia sayangi tak juga mereda. Dia merasa tak berdaya karena tak mampu memihak yang satu dan mengabaikan yang lainnya.
“Ibu sebenarnya mengerti, namun pura-pura tidak tahu. Seandainya ibu mendengar kata hati dan membuka mata sedikit lebih lebar, ibu juga pasti meninggalkan laki-laki itu.”
Demikian penolakan demi penolakan diberikan Trisno pada sang ibu maupun utusan-utusannya. Hingga dua bulan kemudian kunjungan itu mendadak berhenti. Trisno lega sekaligus khawatir. Dia ingin tahu apa yang terjadi, namun terlalu gengsi untuk mengetuk pintu gerbang itu dan masuk ke dalam untuk mencari tahu apa yang terjadi.
*****
Untuk sementara mereka hidup aman walau jelas-jelas merasa tak begitu nyaman. Tak ada lagi utusan sang ibu dengan beragam titipan. Bahkan rumah besar itu tampak lebih sunyi dari biasanya. Hingga suatu hari pintu rumah mereka diketuk. Rayani membuka pintu dan terkejut mendapati sejumlah lelaki berseragam.
Rayani terlalu kaget untuk bertanya atau mempersilahkan tamu-tamunya masuk. Dia hanya terpikir untuk segera memanggil suaminya. Trisno muncul dengan kaus singlet dan sarung. Penampilannya itu membuat banyak kening berkerut, hingga samar terdengar tanya dari antara para lelaki itu.
“Apa benar ini anaknya Sulistyo?”
“Wajahnya, sih, mirip. Tapi kok hidupnya begini?”
Seorang dari mereka maju menghampiri Trisno.
“Kami ingin menyampaikan bahwa Pak Sulistyo telah ditangkap karena kasus korupsi.”
Trisno tak tampak terkejut.
“Kami telah menyita rumah dan beberapa barang lainnya karena beliau juga terlibat hutang dengan bank.”
Wajah lelaki muda tersebut terpancang datar. Sesungguhnya dari jauh hari dia telah memperkirakan hal ini akan terjadi. Segala alasan yang menerbitkan benci di hatinya terhadap lelaki yang dia sebut ayah kini semakin mengukuhkan perasaan itu.
Rasa heran para petugas itu terpancing. Sebab, walau menerima berita yang buruk dan mengejutkan, Trisno tak menunjukkan reaksi yang diharapkan.
“Bukankah Sulistyo adalah ayah Anda?”
Dengan suara tenang Trisno menjawab,“Benar. Tapi beberapa waktu belakangan ini dia banyak berubah. Dia telah jadi orang asing. Dia tak ada urusan denganku. Aku sudah tak mengenalnya lagi!” (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/banjarmasin-post-edisi-cetak_20170618_140337.jpg)