Berita Banjarmasin

Pangeran Antasari : 'Hidup dan Mati Hanya untuk Allah'

Hari ini tepat 115 tahun silam, tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari menghembuskan nafas terakhirnya.

Penulis: Rahmadhani | Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Pangeran Antasari. 

Pandangan yang jauh dan ketabahannya dalam menghadapi setiap tantangan, menyebabkan ia dikenal dan disukai oleh rakyat.

Dan ia pun menjadi sosok pemimpin yang ideal bagi rakyat Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin.

Bahkan dalam mengobarkan perlawanan kepada penjajah Belanda di tengah masyarakat, Pangeran Antasari yang mendapat dukungan penuh dari Pangeran Hidayat yang menjabat sebagai Sultan Kerajaan Banjar.

Semua kekuatan dihimpun untuk menyerang Belanda, mulai dari daerah Barito, Kapuas, Hulu Sungai, Tanah Laut dan daerah lainnya. Hingga ratusan pasukan telah siap bergerak dengan satu komando.

Tepatnya tanggal 28 April 1859, Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari meletus. Tujuan utama pertempuran adalah untuk menguasai benteng Pengaron yang dipertahankan mati-matian oleh Belanda. Pertempuran di benteng pengaron ini, disambut dengan pertempuran-pertempuran di berbagai medan yang tersebar di Kalimantan Selatan.

Perang Banjar kemudian disambut dengan pertempuran-pertempuran lain untuk melawan dominasi Belanda di Kalimantan Selatan.

Seperti pertempuran mempertahankan benteng Tabanio pada Agustus 1859, pertempuran mempertahankan benteng Gunung Lawak pada september 1859, dan pertemuran mempertahankan kubu pertahanan Munggu Tayur pada Desember 1859.

makam pangeran antasari
makam pangeran antasari (banjarmasinpost.co.id/m rifqi ihsani)

Sementara itu Pangeran Hidayat makin jelas menentang Belanda dengan memihak kepada perjuangan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Antasari, memaksa penguasa Belanda menuntut supaya Pangeran Hidayat menyerah.

Baca: Fakta Menarik Seputar Jamie Chua, Eks Istri Konglomerat Indonesia, Ternyata Dia Sahabat Syahrini!

Namun hal itu ditolak oleh Pangeran Hidayat hingga akhirnya penguasa kolonial Belanda secara resmi menghapuskan kesultanan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860.

Perlawanan semakin meluas, kepala-kepala daerah dan para ulama ikut memberontak, memperkuat barisan pejuang Pangeran Antasari bersama-sama Pangeran Hidayat. Tetapi karena persenjataan pasukan Belanda lebih lengkap dan modern, pasukan Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayat terus terdesak serta semakin lemah posisinya.

Setelah memimpin pertempuran selama hampir tiga tahun, ditambah kondisi kesehatan yang terus menurun, akhirnya Pangeran Hidayat menyerah kepada Belanda tahun 1861. Dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat.

Sebagai gantinya, perjuangan umat Islam Banjar dipimpin sepenuhnya oleh pangeran Antasari.

Baik sebagai pemimpin rakyat, maupun sebagai pewaris Kesultanan Banjar.

Sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Kalimantan Selatan, maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, Pangeran Antasari mulai menyerukan perlawanan kepada Belanda dengan mengajak seluruh elemen masyarakat berpegang teguh kepada keyakinan 'Hidup dan mati hanya untuk Allah SWT'.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved