Berita Banjarmasin
Pangeran Antasari : 'Hidup dan Mati Hanya untuk Allah'
Hari ini tepat 115 tahun silam, tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari menghembuskan nafas terakhirnya.
Penulis: Rahmadhani | Editor: Eka Dinayanti
Karena sikap Pangeran Antasari yang menjunjung tinggi agama Islam, seluruh rakyat, pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Suatu gelar yang juga pernah disandang oleh Rasullulah SAW.
Baca: Ada 7 Fakta Penggerebekan Pasangan Mesum di Musala, No 5 Sudah Kebelet dan Main Berdiri Pun Oke
Pengangkatan ini sekaligus menempatkan Pangeran Antasari secara resmi memangku jabatan sebagai kepala pemerintahan, panglima perang dan pemimpin tertinggi agama Islam. Pertempuran yang berkecamuk makin sengit dan berlangsung di berbagai medan, antara pasukan Khalifatul Mukminin dengan pasukan Belanda.
Namun karena pasukan Belanda mendapatkan sokongan bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya pasukan Pangeran Antasari berhasil dipukul mundur hingga memaksa memindahkan benteng pertahanannya di hulu Sungai Teweh.
Perlawanan terus ditunjukkan oleh pasukan Pangeran Antasari hingga akhirnya Pangeran Antasari meninggal pada 11 Oktober 1862, setelah sakit komplikasi yang dideritanya.
Selepas kepergiannya, perjuangan melawan penjajah di Kesultanan Banjar dipimpin oleh Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said dan teman dekat pangeran. (*)
(banjarmasinpost.co.id/rahmadhani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/pangeran-antasari_20171011_133122.jpg)