Mobil Tua Forsa Disulap Bertampang Kekinian

Filintra kemudian memodifikasi mobil butut berwarna merah maron tersebut menjadi kekinian dengan warna kuning lemon.

Mobil Tua Forsa Disulap Bertampang Kekinian
istimewa
Anggota Komunitas SFCI bangga berpose bersama mobil tuanya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ketika membeli mobil Forsa pada 2015 lalu, Filintra tak bermaksud bergabung dengan komunitas pencinta mobil tua tersebut. Tujuannya, kala itu, mobil tersebut untuk menopang aktivitasnya sebagai videografer.

Demi memiliki mobil itu, Filintra rela menjual kendaraan CBR-nya tahun 2007 dan laku Rp 21 juta. “Dananya cuma segitu, ya mobil Forsa pilihanya. Itu pun bayarnya dua kali," tutur Filintra, Rabu (01/11/2017).

Menurut dia, sehebat-hebatnya sepeda motor, ketika hari panas tetap kepanasan dan saat musim hujan tetap kehujanan. Itu sebabnya semampu mungkin dirinya berjuang untuk membeli mobil meski hanya mobil tua.

Ia kemudian memodifikasi mobil butut berwarna merah maron tersebut menjadi kekinian dengan warna kuning lemon. Lampu belakangnya ia pasangi lampu dari Toyota Yaris dan lampu depan mencomot BMW E36. Sedangkanya body tetap standart, velg ring 13 ban donat. "Biaya modifnya sekitar Rp 15 juta," sebutnya.

Diakuinya merawat mobil tua lumayan susah. "Suspensi kaki sering bermasalah, soalnya sudah besi tua. Kalau mesinnya tetap andal walau kadang sering jerujutan, bermasalah pada karbulator, dan pengapiannya. Tapi, itu tak terlalu berat," kata Filin.

Namun keuntungannya sparepart lebihgampang mencari karena persamaan mesinnya banyak yang sama, seperti Carry taxi 1000cc bermesin tipe FA10.

"Suzuki punya saya keluaran Jepang asli. Build up, sepertinya satu-satunya di Kalsel, bermesin tiga silinder dan langka mobilnya," tegasnya,

Mobilnya itu beda dibanding Forsa milik rekan-rekannya yang tergabung dalam komunitas Suzuki Forsa Comunity Indonesia (SFCI) Chapter Borneo. Meski milik yang lain mesinnya 4 silinder, tapi belum bukan build up.

"Mobil Forsa milik anggota SFCI Chapter Borneo yang paling tua yakni 1985, termasuk punya saya. Yang lainnya di atas tahun itu hingga tahun 1989,” sebut humas SFCI ini.

Selengkapnya simak di koran Banjarmasin Post edisi Kamis (02/11/2017).

(syaiful anwar)

Penulis: Syaiful Anwar
Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved