Jejak Karya Datuk Kelampayan
NEWSVIDEO : Ini Penampakan Naskah Asli Kitab Sabilal Muhtadin
Museum Lambung Mangkurat di Jalan Ahmad Yani 36, Banjarbaru simpan koleksi jejak karya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
Penulis: Nia Kurniawan | Editor: Murhan
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Museum Lambung Mangkurat di Jalan Ahmad Yani 36, Banjarbaru simpan koleksi jejak karya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau juga disebut Datu Kelampayan.
BPost online berkesempatan melihat langsung koleksi kitab asli Sabilal Muhtadin, Kitab yang judul lengkapnya Sabil al-Muhtadin li at-Tafaqqahu fi Amr ad-Din.
Kitab replika dipamerkan di museum, sementara yang asli tersimpan aman di tempat khusus koleksi dan konservasi.
Petugas tampak hati-hati membawa peti mini berisi lembaran kitab Sabilal Muhtadin. Saat meletakkan di meja pun diberi alas lagi beberapa lembar kain. Saat tutup peti dibuka, tampak lembaran yang sudah lapuk termakan usia itu.
Baca: Link Live Streaming O-channel Barito Putera vs Kalteng Putra Piala Presiden 2018, Kick Off 19.30 WIB
Pada catatan inventaris koleksi museum, Kitab Sabilal Muhtadin asli ini bernomor inventaris 5761. Pada data tercatat punya ukuran panjang 21,3 sentimeter, lebar 17,3 sentimeter dan tebal 5,8 sentimeter. Juga tercatat, kitab didapat dari Desa Dalam Pagar Ulu. Tanggal masuk ke museum yakni pada 30 Oktober 1991.
"Saat kami terima pertama kali saat itu, kondisinya memang sudah rapuh, tulisan tangan di antaranya sudah tak lagi bisa dibaca, pudar. Bila dikalkulasi dari pertama dibuat, kitab Sabilal Muhtadin sudah berumur 244 tahun. Bernilai seni tinggi, tulisan tangan yang indah," ucap staf seksi koleksi dan konservasi museum lambung Mangkurat, Zaelani.
Bila nasib Kitab Sabilal Muhtadin tak bisa lagi dikonservasi lain halnya dengan kondisi Kitab Luqthatul Ajlan. Kitab asli yang ditulis tangan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau juga disebut Datu Kelampayan pada tahun 1223 H ini terselamatkan.
Data dari Museum Lambung Mangkurat, kitab ini berisi khusus tentang masalah kewanitaan yaitu tentang haidh, nifas dan istihadhah (darah penyakit).
Baca: Madinah Dilanda Gempa, Inikah Peringatan Allah?
Kitab asli ini juga didapat dari Desa dalam Pagar, Kabupaten Banjar. Kitab ini bernomor inventaris Museum Lambung Mangkurat 2294.
Di bagian belakang ruangan di lantai dua Museum Lambung Mangkurat. Ada pojok khusus Syekh Muhammad Arsyad Albanjari.
Di ruang khusus itu ada mushaf Alquran berukuran besar yang hanya berisi 10 juz, tersimpan aman dalam kaca juga ada lukisan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari.
Kepala Museum Lambung Mangkura Akhmadi Soufyan alias Enos Karli mengatakan jasanya sebagai bentuk peradaban manusia yang luar biasa.
"lestarikan. Makna lestari bukan berarti terbuat tapi tidak jalan di tempat. Pelihara kembangkan. Museum perlu dukungan lebih, semoga kedepannya lebih baik, museum bukan tempat menyeramkan, tapi sarana edukasi bahkan rekreasi" pesannya. (Banjarmasinpost.coid/Nia Kurniawan)