Ramadhan 2019
Mutiara Ramadhan : Rasa Malu
Malu adalah budaya bangsa Indonesia. Demikian pula agama Islam menanamkan sifat malu. Budaya malu merupakan kontrol diri untuk bersikap baik dan adil.
Oleh : KH Cholil Nafis Lc MA PhD
Ketua Komisi Dakwah MUI
DAHULU, masyarakat menjauhi pacaran antararemaja putra dan putri karena ada rasa malu. Bahkan orangtua tidak kuat menahan rasa malu manakala remaja putrinya bersama laki-laki yang bukan mahramnya.
Jangankan mengajak teman laki-lakinya ke rumah, menyapa di jalanan saja terasa ada rasa malu. Karenanya, pergaulan bebas saat itu dapat lebih mudah dicegah karena ada rasa malu di hati masyarakat. Betapa banyak sesuatu yang diinginkan oleh syawat manusiawi dapat ditahan karena motivasi malu.
Kini fenomena berubah, rasa malu hubungan remaja putra dan putri mulai berkurang. Anak remaja tak segan-segan untuk mengajak teman dekatnya ke rumah untuk dikenalkan kepada orangtuanya padahal bukan untuk melamarnya.
Acara apel malam mingguan dianggap suatu yang lumrah. Bahkan berjalan berduaan dan bersama seakan pasangan yang sah dianggap hal biasa. Itu semua karena mulai pudarnya rasa malu.
Malu adalah budaya bangsa Indonesia. Demikian pula agama Islam menanamkan sifat malu. Budaya malu merupakan kontrol diri untuk bersikap baik dan adil.
Ajaran malu dapat menjaga marwah (baca; muru’ah) dari perbuatan tercela sehingga dapatmeningkatkan derajat keimanan. Orang yang tak punya rasa malu akan terjerumus pada kenistaan dan tak dipandang baik oleh Allah SWT dan masyarakat.
Ibnul Qayyim menyatakan kata malu berasal dari kata hayaah (hidup), meski pun ada ulama lain yang menyatakan malu berasal dari kata al-hayaa (hujan). Al-Junaid berkata rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu.
Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak orang lain. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut.
Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saatitu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.
Islam menjadikan rasa malu sebagai satu ciri khas misi ajarannya. Rasulullah saw menegaskan:
“Setiap agama itu memiliki ciri khas akhlaknya, dan akhlak yang menjadi ciri khas agama Islam adalah rasa malu.” (HR Imam Malik).
Memelihara Hati
Umat Nabi saw selalu menjadikan sifat malu sebagai akhlak mulianya. Malu kepada Allah SWT untuk berbuat maksiat dan meninggalkan perintah-Nya karena apapun yang dilakukan oleh manusia diketahui oleh Allah SWT.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-cholil-nafis-lc_wm.jpg)