Ramadhan 1440 H

Tak Ada Masjid Berdiri, Tapi Dari Bukit Itu Sering Terdengar Suara Azan yang Sangat Merdu

Di sebuah perbukitan di wilayah Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menyimpan jejak eksistensi salah satu tokoh

Tak Ada Masjid Berdiri, Tapi Dari Bukit Itu Sering Terdengar Suara Azan yang Sangat Merdu
KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO
P‎uncak gunung kuncup, Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (31/5/2019‎). Lokasi ini dipercaya sebagai bekas masjid yang dibangun oleh Sunan Kalijaga‎. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, GROBOGAN - Di sebuah perbukitan di wilayah Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menyimpan jejak eksistensi salah satu tokoh Walisongo, yakni Sunan Kalijaga, dalam upaya penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

Dari mitologi masyarakat setempat, di puncak perbukitan kendeng selatan itu atau yang lebih dikenal dengan nama "Gunung Kuncup" tersebut, Sunan Kalijaga dipercaya pernah membangun Masjid yang dipergunakannya untuk syiar agama Islam. Gunung kuncup memiliki ketinggian sekitar 800 meter dari dasar permukaan permukiman Desa Keyongan.

Sunan Kalijaga, bukanlah sosok yang asing lagi bagi masyarakat Jawa. Dialah salah satu dari sembilan wali (Walisongo) yang memiliki andil sangat signifikan dalam penyebaran Islam di pulau Jawa.

Baca: Janji Luna Maya Pada Reino Barack, Suami Syahrini Acuhkan Pengusaha Malaysia Faisal Nasimuddin?

Baca: AHY dan Ibas Tak Kuasa Tahan Tangis Saat Angkat Peti Jenazah Ani Yudhoyono, SBY Ucapkan Terima Kasih

Baca: Kisah Kain Batik Penutup Jenazah Ani Yudhoyono, Annisa Pohan Ungkap Dibalik Pesanan Istri SBY

Baca: Malam Lailatul Qadar Akankah Terjadi di Malam ke-27 Ramadhan 1440 H, Sabtu (1/6)?

Baca: Jadwal Buka Puasa Ramadhan Sabtu (1/6) di Jakarta Bandung Surabaya dan 31 Kota

Baca: Jadwal & Live Streaming Sidang Isbat Idul Fitri 1 Syawal 1440 H/2019 M di TVOne Kompas TV & Inews TV

Sunan Kalijaga dikenal dengan nama kecil Raden Said yang dilahirkan sekitar tahun 1440-an di Jawa Timur, tepatnya di daerah Tuban. Dia merupakan putra dari adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur.

Dari berbagai literatur, dalam peranannya menyebarkan dakwah di Jawa, Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang seniman, budayawan, filsuf, dan waliyullah. Dalam menyebarkan dakwah dia sangat luwes dalam memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya Jawa.

Salah satunya ketika Sunan Kalijaga berdakwah menggunakan media wayang kulit. Meskipun tradisi wayang bukan berasal dari Islam, namun Sunan Kalijaga memodifikasinya dengan cerita yang berbau Islam.

Selain berdakwah melalui wayang, Sunan Kalijaga sangatlah kreatif dalam bidang seni dan budayanya. Sunan Kalijaga disebut sebagai pencipta lagu ilir-ilir yang sampai sekarang masih kita kenal.

Selain menciptakan lagu ilir-ilir, Sunan Kalijaga adalah pencipta pertama bedug yang digunakan untuk memanggil umat muslim untuk salat. Dia juga orang pertama kali yang mengadakan grebeg maulid di Demak dalam menyambut kelahiran Rasulullah dan masih banyak lagi seni yang ia geluti.

Begitu banyak kontribusi Sunan Kalijaga di dalam melakukan penyebaran dakwah Islam di Jawa. Dalam memasukkan pengaruh Islam, Sunan Kalijaga tidak menggunakan kekerasan, namun menggunakan cara yang amat lunak untuk mengambil hati masyarakat Jawa pada saat itu. Sunan Kalijaga berdakwah tidak hanya sebatas di atas mimbar, namun juga berdakwah melalui tradisi, kesenian, maupun budaya.

Seperti halnya ketika Sunan Kalijaga syiar agama Islam dengan mendirikan Masjid di gunung kuncup, Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Grobogan. Dimungkinkan kala itu Sunan Kalijaga lebih memilih lokasi yang tertinggi karena dalam berdakwah tak ingin bersinggungan dengan penduduk Jawa setempat yang mayoritas beragama Hindu-Buddha.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved