Nostalgia Barang Antik dari Masa ke Masa
Gramophone Kini Jadi Benda Antik Langka, Pemutar Audio 3 in 1 yang Jadul
Memutar piringan hitam mesti menggunakan gramophone. Alat ini populer pada tahun 1960-an. Bentuknya berupa kotak dengan corong layaknya speaker
Penulis: Salmah | Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID - Memutar piringan hitam mesti menggunakan gramophone. Alat ini populer pada tahun 1960-an. Bentuknya berupa kotak dengan corong layaknya speaker.
Sejarahnya, gramophone adalah kreasi Thomas Alva Edison pada tahun 1877. Nama penemu yang juga populer sebagai orang pertama pembuat bola lampu.
Menggunakan gramaphone, setelah piringan hitam terpasang, putar engsel beberapa kali hingga terasa berat (tidak perlu lama).
Selanjutnya pasang batangan pena atau stylus ke piringa hitam. Stylus berfungsi meneruskan gelombang suara yang direkam di piringan hitam dan diperdengarkan ke pengeras suara berbentuk corong.
Lantunan suara musik dari piringan hitam pun akan terdengar, bahkan suara yang dihasilkan pun akan lebih jernih dibandingkan kaset pita suara.
Baca: Andre Gondrong Diamanakan Satresnarkoba Polres Banjarbaru, Ini Kesalahannya
Baca: Berlangsung! Live Streaming Final NBA 2019 Toronto Raptors vs Golden State Warriors Jumat (14/6)
Baca: Jadwal Siaran Langsung Timnas U-23 Indonesia vs Bali United Jumat (14/6) Persiapan SEA Games 2019
Baca: Sebelum Ikut Turnamen di Yogjakarta, Danrem Uji Dua Petenis Belia Kalsel
Ya, era piringan hitam mulai tersaingi media rekam berbentuk kaset pada 1970-an. Namun hingga akhir awal 80-an piringan hitam masih dipakai walaupun tidak seramai sebelumnya.
Nah, memfasilitasi penikmat lagu agar bisa memainkan piringan hitam, memutar kaset atau mendengarkan siaram radio, pada 70-an ada alat pemutar audio 3 in 1.
Pemutar audio dengan tiga fungsi itu, gramophone, tape, radio, termasuk barang mewah di zamannya. Apalagi bentuknya dikemas portabel yang mudah dibawa ke mana-mana.
Tubagus, kolektor barang antik di Banjarbaru, mengatakan, audio set 3 in 1 adalah peninggalan sang ayah yang sampai kini masih disimpan.
"Saat saya kecil, tahun 80-an, alat ini masih berfungsi. Ayah sering bawa kalau ada acara atau rekreasi," kenangnya.
Ada dua sumber listrik alat ini yaitu colokan listrik dan baterai. Jadi kalau tak ada aliran listrik, cukup beli baterai dan siap dimainkan.
"Bentuknya seperti tas. Jika dibuka, bagian penutupnya adalah sepasang speaker. Kemudian di turntable tersebut ada pemutar piringan hitam lengkap namun kini stylusnya rusak, patah di ujungnya. Kemudian disampingnya ada pemutar kaset. Bagian atas ada radio," terang Tubagus.
Baca: 55 SDN di Batola Bakal Digabung, Disdik Banjarmasin Incar Dua Sekolah
Baca: Keluarga Tersangka Teroris di Palangakaraya Dibina
Baca: Mahasiswi ULM Boyong Empat Gelar dari Filipina, Flora Kenakan Busana Putri Junjung Buih
Masih ada satu lagi fungsi alat ini, tambahnya, yaitu sebagai pengeras suara untuk acara karena dilengkapi dua microphone berkabel yang penyimpannya di kotak khusus dekat radio.
"Memang cukup berat kalau alat ini diangkat. Tapi fungsinya banyak. Boleh dikata ini generasi jadul audio set," pungkasnya.
Era piringan hitam yang hanya dua dekade, selanjutnya terkalahkan era kaset pita yang bentuknya lebih simpel dan mudah dibawa. Saat ini kolektor kaset pita cukup banyak. Bagaimana ceritanta, mari klik tulisan berikutnya.
(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)