Nostalgia Barang Antik dari Masa ke Masa
Inilah Proyektor Video Rumahan Sebelum era Video Kaset
Bicara zaman dulu, tepatnya tahun 70-an, pemutar film rumahan masih berupa proyektor.
Penulis: Salmah | Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID - Menonton film adalah hobi banyak orang. Tempat menonton film bisa di bioskop atau di rumah.
Bahkan di zaman digital ini bisa di mana saja, sebab banyak gadget canggih yang dilengkapi pemutar video.
Bicara zaman dulu, tepatnya tahun 70-an, pemutar film rumahan masih berupa proyektor.
Mirip dengan alat pemutar film di bioskop namun versi rumahan ukurannya mini, begitu juga roll filmnya.
Bagi generasi zaman now, perlu dijelaskan bahwa proyektor merupakan perangkat optik yang memproyeksikan gambar atau gambar bergerak pada sebuah permukaan datar, biasanya sebuah layar putih atau dinding putih.
Baca: Fakta Pernikahan Citra Monica Diungkap Kepolisian, Beda dengan Ungkapan Ifan Seventeen?
Baca: Nyatakan Siap Anggaran Rp210 Miliar Dana Pilkada 2020 Kalsel, Tapi Paman Birin Bilang Ini
Baca: Gelar Nonbar MotoGP, Best Western Kindai Hotel Bagi-bagi Souvenir
Baca: Gramophone Kini Jadi Benda Antik Langka, Pemutar Audio 3 in 1 yang Jadul
Proyektor akan menampilkan gambar dengan cara menyinari obyek melalui lensa transparan kecil.
Sekitar 1950-an sampai dengan 1970-an format film home video adalah berbentuk rol film seluloid 8 mm, dengan durasi sekitar 50 menit setiap reel-nya. Ada juga yang 16 mm, tetapi, yang paling umum di Indonesia adalah 8 mm.
Budi, pemilik proyektor mini jadul, menjelaskan, cara memutarnya adalaj rol berisi pita film dipasang di bagian atas, ujung pita filmnya dimasukkan ke slot yang tersedia, putar knop untuk play.
"Proyektor akan menjalankan pita film dan digulung ke rol kosong. Film pun bisa kita nikmati. Namun saat pemutaran film, ruangan harus gelap, dan lampu film yang menayangkan film diarahkan ke tembok putih atau ke kain putih," beber warga Banjarbaru ini.
Film apa saja yang diputar? Menurut Budi, zaman itu masih terbatas. Awalnya film hitam-putih dan bisu, macam film komedi Charlie Chaplin.
"Kemudian berkembang menjadi film berwarna dan bersuara mono selanjutnya stereo," kisahnya.
Film berwarna dan bersuara moni antara lain komedi Abbot and Castello. Selain itu film-film cowboy dan film kolosal macam Ben Hur serta film lainnya.
Menurut Bagus, hingga akhir 70-an proyektor ini menjadi penghibur keluarganya. Sang ayah memiliki sekitar 10 rol film kala itu.
"Sayangnya, saya tidak tahu ada di mana rol film tersebut sekarang. Masih tersimpan hanya proyektornya. Itupun kondisi mesin sudah rusak," seloroh Budi.
Baca: Andre Gondrong Diamanakan Satresnarkoba Polres Banjarbaru, Ini Kesalahannya
Baca: Jadwal Siaran Langsung Timnas U-23 Indonesia vs Bali United Jumat (14/6) Persiapan SEA Games 2019
Baca: Regrouping SD di Batola, Dosen FKIP ULM Moch Yamin : Patut Dipertimbangkan
Kenangan Budi, apabila sang ayah akan memutar film menggunakan proyektor mini tersebut, maka para tetangga diajak ke rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/proyektor-video-rumahan.jpg)