Opini Publik

Mendakwahkan Fikih Aktual (Mengenang Dr KH Saifullah Abdussamad Lc MA)

Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan kembali kehilangan seorang ulama potensial, berpendidikan tinggi dan mumpuni dalam ilmu agama

Mendakwahkan Fikih Aktual (Mengenang Dr KH Saifullah Abdussamad Lc MA)
BPost
Ahmad Barjie B - Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin

OLEH: AHMAD BARJIE B, Penulis buku “Mengenang Ulama dan Tokoh Banjar” dan “Sungai Banjar”

BANJARMASINPOST.CO.ID - Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan kembali kehilangan seorang ulama potensial, berpendidikan tinggi dan mumpuni dalam ilmu agama. Dr KH Saifullah Abdussamad Lc MA berpulang ke Rahmatullah Kamis petang 25 Juli 2019, dan disalatkan saat salat Jumat di Masjid At-Taqwa Banjarmasin, diimami seorang putranya yang juga calon ulama muda dan hafiz Alquran.

Di antara ribuan jemaah, tampak ikut mensalatkan Sekretaris Umum MUI Kalsel Drs HM Fadhly Mansoer, Ketua FKUB Kalsel Dr H Mirhan AM MA, beberapa guru besar dan dosen UIN Antasari, Uniska dan para tokoh lainnya. Almarhum dimakamkan di Alkah Tambak Sirang Gambut Kabupaten Banjar, kampung halamannya saat muda.

Tidak ada yang mengira ulama sederhana ini wafat begitu cepat. Bahkan beliau sempat diwawancarai wartawan untuk rubrik Halallife Serambi Ummah BPost edisi Jumat 26 Juli, sekitar masalah game online yang kini marak.

Ulama kelahiran Amuntai 12 Januari 1959 ini sebelumnya juga masih bisa mengikuti kegiatan Baznas di Jakarta mewakili Baznas Kota Banjarmasin, namun ketika pulang dan istirahat di rumah beliau jatuh pingsan, diperkirakan karena serangan jantung, dan meninggal setelah sempat dibawa ke RSUD Ulin Banjarmasin. Penulis yang melayat ke rumah duka melihat jenazah beliau seperti orang tidur saja.

Gigih Menuntut Ilmu
Sehari-hari Saifullah mengajar di UIN Antasari, dan UNISKA Muhammad Arsyad al-Banjari, baik program S1 maupun Pascasarjana S2 dan S3. Di UIN Antasari almarhum mengajar mata kuliah Qawaid al-Hadits, Ushul Fiqh dan Fikih Kontemporer, sementara di Uniska mengajar Fikih dan Pendidikan Agama Islam. Jadwal pengajiannya cukup padat, diantaranya di Masjid At-Taqwa. Beliau juga dibutuhkan oleh organisasi keagamaan, diantaranya MUI Kota dan Provinsi Kalsel serta Baznas Kota Banjarmasin.

Menurut HM Fadhly Mansoer, MUI sering mengajak dan mengutus Saifullah yang duduk sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Banjarmasin untuk menghadiri acara-acara MUI di tingkat nasional dan regional.
Saifullah memiliki kedalaman dan wawasan keilmuan, ditambah para pengurus MUI di pusat dan daerah-daerah di Indonesia kebanyakan juga teman-teman Saifullah sesama alumni Timur Tengah. Saifullah mampu mengkombinasikan dan mencari titik temu antara ajaran agama dalam kitab-kitab klasik dengan persoalan keagamaan kontemporer, terutama masalah-masalah hukum aktual yang dibahas dalam forum-forum bahtsul masail dan Ijtima’ Ulama yang rutin dilaksanakan secara nasional.
Meskipun berlatar keluarga petani, Saifullah sejak muda gigih menuntut ilmu. Sempat menempuh pendidikan di Martapura, yaitu di Pondok Pesantren Darussalam. Di sini beliau seangkatan dengan alm KH Ahmad Bakeri dan Drs KH Muhammad Ilyas MAg.

Setelah itu Saifullah melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, khususnya Mesir dan Sudan. Ia menghabiskan lebih 25 tahun di negara-negara Afrika Utara, sehingga berhasil memperoleh gelar Lc, MA dan Doktor. Banyak temannya sesama orang Indonesia yang belajar di Mesir dan beberapa Negara Arab dan Afrika Utara lainnya, seperti KH Abdulkadir Syukur Lc MA, KH Abdul Somad Lc MA (UAS), KH Habiburrahman el-Shirazi MA (Kang Abik) dan lain-lain.

Sambil berstudi, Saifullah bekerja sebagai pegawai tidak tetap di Kedutaan Besar Indonesia Mesir dan Sudan, pemandu wisata sejarah dan religi di Mesir dan sekitarnya serta pendamping jemaah haji, khususnya dari Asia Tenggara.

Tahun 2000-an, Saifullah kembali ke tanah air untuk mengabdi di masyarakat. Karena kecintaannya pada kitab/buku. Saifullah memiliki koleksi kitab, kalau diangkut semua berkapal-kapal, ujarnya, namun hanya sebagian bisa dibawa pulang. Ustadz Reza Ferdian Lc MPdI yang membantu mengemas kitab-kitab almarhum saat pulang mengatakan, koleksi kitab beliau sangat banyak dan sebagian tergolong langka.
Kalau kita bertandang ke rumahnya di kawasan Bumi Ayu Bumi Mas Raya, tampak koleksi kitabnya memenuhi lemari. Harta paling berharga bagi ulama pewaris Nabi tentu kitab/buku yang memuat khazanah ilmu. Rasulullah SAW tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan warisan ilmu untuk pegangan umatnya.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved