Ekonomi dan Bisnis

Cicilan Bulanan Terlalu Berat, Nasabah Perumahan di Batola Tak Berminat Program BP2BT

Sejumlah pengembang perumahan menilai ada kecenderungan nasabah perumahan di wilayah Batola kurang berminat terhadap program BP2BT.

Cicilan Bulanan Terlalu Berat, Nasabah Perumahan di Batola Tak Berminat Program BP2BT
banjarmasinpost.co.id/edi nugroho
Perumahan subsidi di Kompleks Grand Purnama II, di Jalan Trans Kalsel-teng Desa Tatah Makmur, Kecamatan Alalak Batola. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sejumlah developer atau pengembang perumahan menilai ada kecenderungan nasabah perumahan di wilayah Batola kurang berminat terhadap program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) dengan nilai bantuan uang muka kredit perumahan antara Rp38 sampai Rp40 juta sistem bunga komersial.

“Iya kami lihat calon nasabah perumahan di Batola kurang berminat BP2BT. Mereka ingin pemerintah pusat mengembalikan ke progran program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk rumah subsidi,” kata Hamdi Alwie, Manajer Proyek PT Pesona Purnama, Kompleks Grand Purnama II, di Jalan Trans Kalsel-teng Desa Tatah Makmur, Kecamatan Alalak Batola, Kamis (14/11/19).

Hamdi berharap semoga dalam waktu dekat program rumah subsidi dapat berjalan normal kembali, dan kembali ke program FLPP karena selama program BP2BT tidak diminati para debitur.

Sementara itu, ratusan calon nasabah perumahan di Kabupaten Batola hanya bisa gigit jari. Soalnya, niat untuk memiliki rumah subsidi tak kunjung terealisasi meski sudah membayar uang muka dan melengkapi semua persyaratan untuk akad kredit rumah.

Gimmick Hubungan Vicky Prasetyo & Sarita Dituduhkan, Kata Eks Zaskia Gotik Soal Seteru Jennifer Dunn

Kuota Habis, 300 Rumah Subsidi di Kalsel Belum Bisa Akad Kredit dengan Perbankan

Adegan Mesra Ayu Ting Ting & Robby Purba Tertangkap Kamera, Sohib Roy Kiyoshi Usap-usap Bagian Ini

Anggaran Pilgub Kalteng Capai Rp 382,2 Miliar, Pemprov Kalteng Bentuk Desk Pilkada

Kondisi ini dialami sekitar ratusan calon nasabah perumahan subsidi di blok I, blok J dan blok K di Kompleks Grand Purnama II, di Jalan Trans Kalsel-teng Desa Tatah Makmur, Kecamatan Alalak Batola.

“Iya ada 340 unit rumah sudah kita bangun, tapi tidak bisa akad kredit karena kuoatanya dikabarnya habis,” kata H Puriono Direktur PT Pesona Purnama Kompleks Grand Purnama II.

Menurut Puriono, pada Agustus 2019, kuota rumah subsidi di Kalsel dinyatakan habis. Otomatis, pihak developer atau pengembang perumahan tidak bisa melakukan akad kredit terhadap ratusan unit rumah subsidi yang terlanjur dibangun. Selain itu, tak bisa menjual rumah dengan sistem subsidi.

“Developer masih menunggu kepastian kebijakan tambahan rumah subsidi masih ada atau tidak. Nasabah yang sudah terlanjut mendaftar, yaa harus sabar menunggu,” katanya.

Informasi terakhir, sambung Puriono, akan ada tambahan kuota 15 ribu unit pada 2019 dari pemerintah pusat untuk seluruh Indonesia dan dibagi seluruh provinsi di Indonesia. Nah, pada 2020, belum ada kepastian apakah masih ada skema rumah subsidi atau sudah habis.

“Memang nasabah ada piliha lain, yakni melalui program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) untuk bantuan uang antara Rp38 sampai Rp40 juta dengan sistem bunga komersial,” katanya.

Ditambahkannya, selisih cicilan antara rumah subsidi melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan program BP2BT cuma sekitar 100 ribuan per bulan. Dengan BP2BT, maka nasabah jika mau melunasi sisa kredit perumahan, maka pokok kreditnya kecil.

“Misalnya, harga rumah subsidi Rp153 dibantu dengan Rp40 juta program BP2BT, maka pinjaman nasabah ke bank cuma Rp113 juta saja,” katanya.

Rezky Aditya Singgung Soal Fitnah Jelang Pernikahan dengan Citra Kirana, Mantan Agnez Mo Diragukan?

Tangkap Pencuri Mobil dan Penadah, Polsek Tamban Amankan Mobil Toyota Avanza

Postingan Eks Istri Raul Lemos Saat Isu Selingkuh Krisdayanti Muncul, Shechah Sagran : Diam & Telan

Masalah sekarang, sambungnya, nasabah masih ada dua pilihan, yakni program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk rumah subsidi yang masih ditunggu kelanjutannya dan BP2BT sudah berjalan.

“Di lapangan, nasabah membanding-bandingkan program kredit rumah subsidi FLPP dengan program BP2BT mana yang lebih baik,”katanya. (Banjamasinpost.co.ide/edi nugroho)

Penulis: Edi Nugroho
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved