Kiprah Pencipta Tari Kreasi
Kehidupan Anak-anak Loksado dan Masyarakatnya, Menginspirasi Guru ini Menciptakan Karya Tari Kreasi
ABDURRAHIM Suryanegara, akrab disapa Ahim. Sudah sembilan tahun dia mengabdi di desa terpencil, Loksado, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai
Merealisasi keinginan membina anak-anak Loksado menjadi penari yang bisa tampil di berbagai event, pada 2016 dibentuk Sanggar Seni Budaya Pusaka Meratus.
Awalnya sekretariatnya di rumah dinas guru.
Namanya Sanggar SMP Satu.
Baru 2018 menjadi mandiri dengan 11 penari dari murid SMPN 1 Loksado.
Anak-anak pedalaman yang dibina menjadi penari, tampil pertama di depan umum pada Car Free Sunday, Agustus 2016.
Sejak saat itu, banyak yang tertarik dengan penampilan anak-anak meratus tersebut.
Sejak itu pula, kata Ahim, sanggar Pusaka Meratus sering diundang ke acara-acara di kecamatan, hingga kabupaten.
“Kami ingin mengucapkan terimakasi kepada mantan Camat Loksado Abdul Karim. Beliaulah yang memberi kesempatan tampil di MTQ 2016. Ternyata itu menjadi pembuka peluang bagi kami, mendapat tawaran tampil di berbagai event lainnya. Termasuk saat aruh sastra di HSS, hingga sering menghibur tamu wisatawan lokal dan internasional yang berkunjung ke HSS,” ujarnya.
Bahkan, sebut Ahim, kebanggaan dia dan anak didiknya, pernah tampil di Taman Ismail Marzuki Jakarta, mewakili HSS di Festival Banjar.
Pada tahun 2019 lalu, sanggar Pusaka dengan jumlah anggota 19 orang penari dan pemusik tradisional, mengikuti Gelar Budaya Saraba Kawa, Festival Tari Dayak Pedalaman di Tabalong, Tanjung.
Meski gagal meraih juara, Ahim mengaku bangga jika anak-anak binaannya sering mendapat kesempatan tampil di luar daerah.
Karena hal itu, menambah pengalaman, wawasan dan kepercayaan diri anak-anak Loksado yang sebelumnya cenderung pemalu menampilkan bakat seni mereka.
Ahim sendiri, sudah menciptakan sejumlah tari kreasi, antara lain Parigal Bajang yang diinspirasi dari perilaku anak-anak Loksado.
Juga tari Arak Igal Bajang, yang dulu ditampilkan di Jakarta. Kemudian Aghanan Meratus atau dalam bahasa Indonesia artinya merindukan Meratus, Alap Aghanan atau menjemput kerinduan.
“Kreasi gerakan yang saya ciptakan, sering terinspirasi dari prilaku keseharian anak-anak di Loksado dan masyarakatnya,” beber Ahim.
Untuk mengasah kemampuan gerak, minimal latihan seminggu sekali. Ahim punya mimpi besar, ingin tari kreasi yang diadopsi dari tari tradisional Dayak tersebut bisa dikenal secara nasional.
Bahkan internasional.