Tajuk

Pengabdi Terpinggirkan

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Nadiem Makarim sudah menegaskan, wacana penghapusan guru honorer tidak benar

Pengabdi Terpinggirkan
istimewa/abdul rahim
Guru Honorer SDN Sardangan yang rutin pungut smpah, membakar sampah bersama siswnya 

BANJARMASINPOST.CO.ID - MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Nadiem Makarim sudah menegaskan, wacana penghapusan guru honorer tidak benar. Apalagi, kata Mendikbud, jumlah guru honorer di Indonesia cukup besar.

Mendikbud juga menegaskan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Tjahjo Kumolo juga sudah memberi arahan, penghapusan itu hanya dilakukan di pemerintah pusat, bukan tenaga guru honorer di sekolah. Setidaknya, guru honorer itu merupakan kewenangan kepala sekolah dan diawasi langsung Dinas Pendidikan setempat, sehingga sama sekali tidak ada penghapusan tenaga honorer di sekolah.

Memang, perkara guru honorer sebenarnya menjadi tanggung jawab dan ranah pemerintah daerah. Namun, Mendikbud menilai, pemerintah daerah belum dapat solusi memperbaiki kesejahteraan guru honorer.Pemanfaatan dana BOS untuk honor guru bisa dimaksimalkan hingga 50 persen yang berbeda dengan tahun sebelumnya yang berada di kategori 15 persen.

Tentu kebijakan ini dapat menaikkan semangat guru dalam mengajar dan menyejahteraan guru honorer hingga memberikan kesempatan perannya dalam mencerdaskan anak bangsa dan lebih kerasan (at home) bersama para anak didiknya.

Di Pemprov Kalsel, pada 2020 ini, Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor pun melayangkan Pergub yang menyatakan menaikan gaji guru dan guru dan tenaga kependidikan (GTK) honorer.

Kenaikan gaji guru honorer sebesar Rp 800 ribu (dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,3 juta, Red) ini diperuntukkan bagi guru tingkat SMA sederajat di sekolah negeri yang mulai diberlakukan awal 2020. Sedangkan untuk guru honorer di sekolah swasta akan menyesuaikan kucuran dana BOS daerah masing-masing.

Banjarmasin Post edisi Jumat (14/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Jumat (14/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Yang terpenting dan utama, guru honorer bukan lagi dianggap sebagai abdi negara pinggiran dan hanya menjadi pekerja pelengkap atau pembantu guru-guru yang sudah berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Justru, jika menengok jauh ke lapangan, guru honorer inilah yang menjadi ujung tombak pendidikan di Tanah Air, tak terkecuali Bumi Lambung Mangkurat, Kalsel.

Khusus untuk guru honorer tingkat SMA, SMK atau pendidikan khusus seperti SLB di Kalsel saja atau GTK non ASN di sekolah negeri berjumlah 3.879, sedangkan di sekolah swasta jumlahnya 1.727 orang. Angka ini tentu jauh dari guru PNS yang ada di Kalsel yang belum mencapai perbandingan 50:50.

Angka ini pula tentu menjadi dasar upaya pemerintah untuk tidak mengabaikan jasa-jasa para pegawai pinggiran. Bahkan, pemeritah harus terus meningkatkan kesejahteraan mereka demi kelangsungan dunia pendidikan hingga mencetak generasi penerus yang handal serta mandiri.

Tak terlepas dari pesan dan jasa guru berstatus ASN, guru honorer inilah yang kini terus menginspiratif perjuangan-perjuangan guru honorer lainnya. Bahkan, tingkah polah inspiratif guru honorer ini bisa membangkitkan guru ASN untuk bisa mengembangkan diri sebagai pengajar profesional dan proporsional.

Jangan ada lagi gambaran, guru ASN hanya bisa menerima gaji besar. Namun, lebih dari itu harus bisa menjadikan Kalsel lebih bermartabat dan berjiwa didik teknologi maju. Tidak jarang para guru honorer harus berjuang melewati berbagai rintangan dan halangan untuk mendapatkan status sebagai guru honorer. Berbagai cara pula mereka tempuh untuk bisa mengapai lokasi di mana mereka harus mengabdi. Tentu tak semudah membalikkan telapak tangan.

Dari nilai perjuangan guru honorer inilah, para insan pendidikan bisa membangkitkan diri untuk terus bersemangat, berkarya dan berinovasi mencetak generasi penerus tangguh dan bertaqwa dalam melanjutkan roda-roda kehidupan di masa mendatang yang penuh tantangan dan rintangan teknologi.

Spirit pengabdian para pegawai pinggiran inilah yang bisa mewujudkan negara terutama Bumi Lambung Mangkurat yang adil, makmur serta berkesejahteraan. Setidaknya, akan tumbuh spirit pendidikan untuk memajukan serta mencerdaskan anak-anak bangsa dari Bumi Lambung Mangkurat hingga menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dan berkemajuan. Semoga (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved