Kriminalitas HST
Nabi Palsu dari HST Didiagnosa Mengidap Waham Menetap, ini Penjelasan Spesialis Kejiwaan
Meski perbuatannya dinyatakan salah dan terlarang, Nasrudin si nabi palsu mengaku tidak menyesal karena sudah melecehkan agama.
Penulis: Eka Pertiwi | Editor: Eka Dinayanti
Editor: Eka Dinayanti
BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI – Sidang kelima Nabi Palsu asal Bandang Kahakan Kecamatan Baru Benawa Kabupaten Hulu Sungai Tengah kembali dilaksanakan, pada Kamis (9/4/2020) di Pengadilan Negeri Barabai.
Sidang dengan agenda pemanggilan saksi ahli kejiwaan dari RSUD Hasan Basri Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, saksi a de charge atau saksi meringankan, serta eksepsi.
Dalam eksepsinya, Nasrudin tak mengaku menyesali perbuatannya karena sudah melecehkan agama Islam.
Ia masih berkeyakinan jika ia merupakan orang yang diutus Allah sebagai nabi menggantikan Nabi Muhammad SAW.
• Kejang-kejang, Wanita Hamil Meninggal Akibat Positif Corona, Sang Suami Dikarantina di Penjara
• Ucapan Duka Inul Daratista untuk Glenn Fredly Malah Jadi Perdebatan, 1 Kalimat Ini Penyebabnya
• Raja Salman Kabur ke Laut Merah, Mengasingkan Diri dari 150 Anggota Kerajaan Positif Corona
Bahkan, ia juga tak memungkiri jika ia mengubah dua kalimat syahadat.
“Saya bersaksi tiada Tuhan disembah selain Allah, dan Nasrudin pesuruh Allah. Ini yang saya yakni dan benar,” ujarnya.
Nasrudin juga mengaku menggelar pengajian pada Rabu pagi, Jumat malam, dan Selasa Malam.
Sebelum eksepsi, sidang terlebih dahulu dilakukan dengan menghadirkan saksi ahli dari RSUD Hasan Basri Kandangan.
dr Sofyan Saragih, Sp.KJ bahkan melakukan observasi terhadap Nasrudin selama 27 hari sejak 9 Desember 2019 hingga 4 Januari 2020.
Dari diagnosanya Nasrudin mengalami gangguan jiwa berat dengan kategori waham menetap.
Apa itu waham menetap? Gangguan waham menetap, atau dikenal sebagai persistent delusional disorder, merupakan gangguan mental yang jarang ditemukan dengan waham sebagai satu-satunya gejala utamanya.
Menurutnya, Nasrudin memiliki gangguan isi pikir berupa keyakinan yang salah, tidak realistis, tidak bisa dikoreksi atau digoyahkan, sangat diyakini, dan tidak sesuai dengan budaya.
Melakukan observasi dengan Nasrudin, ia harus melakukan pemantauan CCTV 24 jam, visite selama 45 menit dengan berbicara dengan Nasrudin setiap hari hingga melakukan pemantauan di sekitar lokasi kediaman Nasrudin.
“Dari segi kehidupan dia normal. Tak tampak gangguan. Tapi ketika menyangkut keyakinan, dia selalu konsisten dan menyebut hal yang sama,” bebernya.