Berita HSU

Manfaatkan Akar Bambu, Petani di HSU Bikin Pupuk Pemacu Pertumbuhan Tanaman

Memanfaatkan akar bambu dan tanah di sekitarnya, petani di Desa Keramat HSU membuat pupuk pemacu pertumbuhan tanaman

Tayang:
Penulis: Reni Kurnia Wati | Editor: Hari Widodo
istimewa
Petani di Desa Mekar, Kecamatan Amuntai Selatan saat mempraktikan mengolah pupuk pemacu pertumbuhan tanaman. 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Petani di Desa Keramat Kecamatan Amuntai Selatan Kabupaten HSU tidak lagi repot untuk mendapatkan pupuk kimia untuk memacu pertumbuhan tanaman.

Kini Mereka sudah terampil membuat pupuk organik yang diolah dari bahan di sekitar tempat tinggal.

Dipandu seorang penyuluh pertanian, petani di desa setempat  membut pupuk Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR).

Penyuluh pertanian Purna mengatakan warga dilatih membuat pupuk PGPR atau Rizobakteri Pemacu Pertumbuhan Tanaman.

Waspadai Pupuk dan Pestisida Palsu, Pemkab Tanbu Lakukan Rakor Terkait Pengawasan

52 Ton Bantuan Pupuk dari Provinsi Kalimantan Selatan untuk UPPB Pelita Abadi Tabalong

Manfaatkan Kolam Lele untuk Pupuk hingga Petunjuk Kondisi pH Air

"Selain memacu pertumbuhan juga bisa mengurangi penyakit dan kerusakan pada tanaman, serta dapat mempercepat proses pengomposan,” ujarnya.

 Pembuatan pupuk PGPR menggunakan bakteri baik yaitu Rizobakteri, yang didapat dari akar bambu.

Awalnya membuat biang bakteri dengan menebang bagian batang dan akar bambu sekaligus dengan tanah yang menempel dibagian akar.

Bakterinya banyak terdapat di tanah yang ada disekitar akar bamboo.

 Kemudian direndam ke air tanah baik sumur maupun sungai yang telah dimasak dan didinginkan, tidak diperbolehkan menggunakan PDAM yang telah bercampur kaporit.

“Biang tersebut didiamkan selama tiga hari tiga malam,” ujarnya.

 Bahan lain yang disipkan adalah terasi dan gula merah dan Msg yang direbus menggunakan air tanah.

Saat air mendidih baru dimasukkan semua bahan tersebut, setelah mendidih dan diaduk angkat dan didinginkan sampai bena benar dingin.

 Campuran bahan pertama yaitu biang dengan bahan kedua yang telah benar benar dingin dicampur kemudian disaring.

Pupuk dimasukkan kedalam jerigen dan ditutup rapat selama dua minggu. Selama dua minggu tersebut pupuk dikocok satu kali dalam sehari dengan jam yang sama.

“Setelah dikocok dibuka sebentar tutupnya dan ditutup rapat kembali untuk mengeluarkan gasnya,” ujarnya.

 Untuk mengoreksi apakah pupuk yang dibuat berhasil bisa dilihat dari baunya, apabila baunya sama atau tidak ada perubahan dengan saat pertama membuat berarti pupuk dalam kondisi baik dan bisa digunakan.

 Pupuk sudah bisa digunakan dengan mencampur pupuk dengan air dengan perbandingan 250 ml bercampur dengan air 20 liter air.

Dimasukkan kkedalam alat penyemrot dan bisa disemprot ke berbagai tanaman seperti pagi dan sayuran.

Petani di Tapin Keluhkan Langkanya Pupuk Bersubsidi, H Jumri Akan Mengadu ke Wakil Rakyat

PT UBJ Harap Kesejahteraan Warga Meningkat, Gelar Penyuluhan Pertanian dan Sosialisasi Pupuk Organik

“Penyemprotan harus dilakukan saat matahari teduh bisa saat pagi buta atau sore menjelang malam, tidak boleh terkena sinar matahari agar bakteri baik tidak mati,” ungkapnya.

 Indah anggota kelompok tani mengaku sudah bisa membuat pupuk organic sendiri, karena bahannya sangat mudah didapat.

“Memang agak repot karena menyemprotnya tidak booleh terkena sinar matahari namun benar benar ampuh,” ungkapnya. (banjarmasinpost.co.id/reni kurniawati)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved