Jendela
In Memoriam Guru Zuhdi
Cinta orang banyak kepada Guru Zuhdi tentu bukanlah sekonyong-konyong. Cinta itu tumbuh bersama waktu, dalam kebersamaan di majelis ilmu.
Oleh: Prof Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari
BANJARMASINPOST.CO.ID - SABTU, 2 Mei 2020, sekitar jam 8 pagi, telepon saya berdering. Ternyata yang menelepon adalah kanda Mansyah, seorang qari dan kakak kelas saya di Pesantren Al-Falah. “Guru, Guru Zuhdi meninggal dunia,” katanya lirih-sedih. Saya pun bergetar, merasa kehilangan tiada-tara. Beliau wafat di RS Medistra Jakarta dan dibawa pulang ke Banjarmasin untuk dimakamkan di dekat rumah beliau, di kawasan Pasar Lama.
Tuan Guru Haji Ahmad Zuhdiannor yang akrab dipanggil ‘Guru Zuhdi’ atau ‘Abah Haji’ adalah ulama Banjar yang tergolong muda, kelahiran Banjarmasin, 10 Februari 1972. Kepergiannya pada usia 48 tahun, di saat umat masih sangat membutuhkan siraman nasihat-nasihatnya, tentu membuat banyak orang terkejut, terpana bahkan tak percaya.Rasanya beliau masih di sini bersama kita, tersenyum dan bercanda.
Namun, begitulah sudah suratan takdir. Allah telah memanggilnya. Bagi para murid-pecinta Guru Zuhdi yang jumlahnya amat banyak, kenyataan pahit ini harus diterima, meskipun dengan linangan airmata.Saya terenyuh melihat video ratusan anak remaja yang berjejer di tepi jalan dan terisak pilu saat melihat mobil jenazah yang membawa jasad beliau. “Guruu, Guruu…” katanya seolah memanggil tak terjawab.
Cinta orang banyak kepada Guru Zuhdi tentu bukanlah sekonyong-konyong. Cinta itu tumbuh bersama waktu, dalam kebersamaan di majelis ilmu.
Setelah wafatnya Guru Sekumpul pada 2005, Guru Zuhdi adalah salah satu suluh penerang hati penerus beliau. Banyak orang bilang, penampilan dan cara bicara Guru Zuhdi, mirip sekali dengan Guru Sekumpul.
Memang, Guru Zuhdi adalah murid Guru Sekumpul. Namun, sebagai pribadi, Guru Zuhdi tetap unik. Setamat Sekolah Dasar, dia tidak menjalani pendidikan formal lagi seperti kebanyakan orang.
Konon, ia hanya bertahan dua bulan di Pesantren Al-Falah yang didirikan oleh KH Muhammad Sani, seorang tokoh ulama yang juga kerabatnya. Padahal, setelah sang pendiri Al-Falah itu wafat pada 1986, ayah Guru Zuhdi, KH Muhammad, justru yang menggantikannya.
Zuhdi kecil akhirnya memilih jalur pendidikan yang disebut ‘mangaji baduduk’, yakni belajar ilmu-ilmu agama langsung di rumah guru atau di majelis taklim. Semula ia dikirim ayahnya pulang kampung, ke Alabio, untuk belajar dengan kakeknya yang juga seorang ulama, K.H. Asli. Di sini tampaknya ia belajar ilmu-ilmu dasar keislaman. Setahun kemudian, kakeknya meninggal, dan ia kembali ke Banjarmasin.
Di rumah, ia terus belajar tata bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Kali ini langsung dengan ayahnya. Sang ayah dikenal sebagai ahli ilmu tauhid, khususnya dalam bidang kajian ‘Sifat 20’. Kajian ini memang menuntut kemampuan berpikir logis dan kritis. Kelak, Guru Zuhdi mewarisi kepakaran ayahnya ini.Di Banjarmasin, ia juga belajar ilmu-ilmu keislaman kepada Guru Abdus Syukur (w.1990) di Teluk Tiram.
Setelah itu, sang ayah mengirim remaja Zuhdi untuk berguru kepada teman baiknya, KH Muhammad Zaini atau Guru Sekumpul. Di sinilah Guru Zuhdi belajar intensif ilmu-ilmu keislaman, dengan menghadiri majelis taklim Guru Sekumpul, baik yang bersifat umum ataupun yang khusus untuk kalangan tertentu.Ia sangat mengagumi Guru yang satu ini, dan belajar dengannya selama kurang lebih tujuh tahun.
Sebagai orang yang tidak menjalani pendidikan formal, Guru Zuhdi menjadi pribadi pembelajar yang luar biasa. Dia tidak hanya rajin mengajar, tetapi juga rajin belajar.Dia menjadi ulama yang rendah hati, yang tidak suka menonjolkan diri. Dia juga mampu memahami pikiran dan perasaan masyarakat, khususnya kalangan awam. Ia sangat pandai berbicara dalam bahasa yang dekat dan mudah mereka pahami.
Pengalaman mangaji baduduk itu pula mungkin yang menanamkan kesadaran yang kuat dalam dirinya bahwa ilmu bukan sekadar hapalan, nilai rapor, selembar ijazah apalagi sederet gelar/titel, melainkan fungsinya atau kegunaannya dalam hidup kita. “Ilmu itu untuk menjawab persoalan-persoalan hidup,” katanya. Itulah ilmu yang bermanfaat, yang membawa kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Nah, ilmu yang memberi jawaban terhadap masalah-masalah hidup itulah, yang membuat majelis Guru Zuhdi selalu menarik bagi semua kalangan. Anak-anak muda yang galau menjadi tenang saat menerima nasihat-nasihatnya. Orang-orang miskin menjadi kuat dan terhibur, sedangkan orang-orang kaya dan para penguasa diingatkan akan bahaya fatamorgana dunia. Semua orang merasa masalahnya terjawab!
Selain mengisi akal dengan ilmu, Guru Zuhdi juga menyirami jiwa-jiwa yang gersang dengan alunan syair-syair selawat, seperti diajarkan oleh Guru Sekumpul. Tak hanya itu, jiwa-jiwa itu juga dihibur dengan berbagai lelucon, yang kadang membuat orang terpingkal-pingkal. Mungkin karena berdarah Alabio, Guru Zuhdi sangat pandai memainkan kata dalam membuat lelucon, khususnya dalam bahasa Banjar.
Sekarang, ulama besar itu telah meninggalkan kita, tepat di bulan Ramadan 1441, ketika dunia masih bergumul menghadapi krisis Covid-19. Selamat jalan Guru. Kau akan terus dikenang dan dicintai oleh murid-muridmu. Hidupmu yang singkat melampaui manfaat yang telah kau baktikan kepada umat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/rektor-universitas-islam-negeri-uin-antasari-banjarmasin-prof-mujiburrahman.jpg)