Berita Banjarmasin

Usaha Terancam di Tengah Pandemi, Peternak Mengadu ke DPRD Kalsel

Selain akibat pandemi Covid-19, keberlangsungan usaha peternak itik petelur di Kabupaten Tanbu makin terancam dengan dibanjiri telur itik Jawa Timur.

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Alpri Widianjono
HUMAS DPRD KALSEL UNTUK BPOST GROUP
Anggota Komisi II DPRD Kalsel, M Yani Helmi (kiri), menerima kedatangan perwakilan peternak itik petelur Kabupaten Tanahbumbu (Tanbu) di DPRD Kalsel, Senin (4/5/2020). 

Editor:  Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Perwakilan kelompok peternak itik petelur asal Kabupaten Tanahbumbu (Tanbu), Mufsihuddin, menyambangi Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Senin (4/5/2020).

Bukan tanpa alasan, Mufsihuddin mengaku datang untuk mengadukan kondisi para peternak itik petelur di Kabupaten Tanbu yang kondisi usahanya makin tertekan saat ini.

Peternak tersebut disambut anggota Komisi II DPRD Kalsel, M Yani Helmi atau akrab disapa Paman Yani di ruang kerjanya,

Kemudian, Mufsihuddin mengungkapkan, selain akibat pandemi Covid-19, keberlangsungan usaha peternak itik petelur di Kabupaten Tanbu makin terancam dengan dibanjiri produk telur itik asal Jawa Timur.

Dijelaskan Mufsihuddin, pihaknya tidak mampu jika harus bersaing dengan produsen besar yang miliki produk melimpah dan bisa menggunakan strategi subsidi silang.

Pasalnya, peternak itik petelur di Kabupaten Tanbu meski jumlahnya ratusan, namun masing-masing hanya miliki kapasitas produksi yang sedikit sehingga sangat sensitif terhadap perubahan harga jual produk.

BREAKING NEWS : Positif Covid-19 di Kalsel Kini 199 Orang, Sembuh 31, Meninggal 12

Penyebab Angka Positif Covid-19 di Kalsel Meningkat Cepat, Kini Dekati 200 Kasus

VIDEO DPRD Kalsel Minta Bansos Disalurkan, Pemprov Tunggu Data Valid

Peternak Puyuh di Kabupaten HSS Terpuruk, 150 Ribu Telur Masih di Gudang

"Di samping kurangnya permintaan akibat kondisi pandemi, ada juga produksi telur Surabaya yang masuk yang harganya lebih murah. Kalau kami ikuti harganya itu, kami bangkrut," kata Mufsihuddin.

Apalagi banyak dari kalangan peternak itik petelur di Kabupaten Tanbu, kata Mufsihuddin, bergantung pada permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Karena itu, melalui DPRD Kalsel, ia inginkan ada perlindungan pemerintah terhadap keberlangsungan usaha peternak lokal.

Tanggapan Paman Yani, hasil monitoringnya ke daerah beberapa waktu lalu, tak hanya peternak, namun pekebun dan penambak ikan pun memang mengalami masa sulit di tengah masa pandemi saat ini.

Dengan kondisi demikian, ia mendorong Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalsel dan masyarakat untuk sama-sama membantu dengan memilih produk lokal di tengah banjir produk dari luar daerah.

"Ibu Kepala Disbunnak, kami tahu, beliau komitmen bahkan sampai ikut menjual hasil ternak petani lokal. Itu kami apresiasi. Tapi tidak cukup sampai di situ. Kecintaan masyarakat terhadap produk lokal harus ditumbuhkan," kata Paman Yani.

Selain itu, anggota Dewan yang terpilih di Dapil VI Tanbu dan Kotabaru ini juga meminta perbankan termasuk penyalur KUR di Kalsel agar berkomitmen menerapkan dan menjalankan kebijakan-kebijakan relaksasi kredit yang ditetapkan pemerintah pusat.

"Insentif yang diberikan, yaitu penundaan pembayaran cicilan dan pembebasan bunga selama enam bulan. Berlaku mulai 1 April 2020, sebagaimana yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto di media massa belum lama tadi, " kata Paman Yani.

Namun ia mengingatkan agar relaksasi kredit ini tidak membuat para nasabah KUR menjadi terlena.

Semestinya, relaksasi kredit yang diberikan pemerintah bisa dijadikan momen untuk terus berkarya dan semangat berusaha sehingga ke depan roda perekonomian bisa kembali bangkit seiring dengan berlalunya wabah corona.

(Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved