Berita Viral
Kisah Kiai dari Bantaeng yang Wafat Setelah Selesai Menuntun Syahadat Sakratul Maut sang Istri
Sang Kiai meninggal hanya berselang 1 jam 25 menit, setelah menuntun syahadat sakratul maut istri keduanya.
"Kementerian Agama kehilangan tokoh, di tengah duka cita mendalam ini teriring doa semoga almarhum husnul khotimah hingga almarhum dapat menikmati segala kebaikannya semasa hidup di alam kubur. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin," ucapnya.
Haji Muhammad Jaelani, Ketua PC Nahdlatul Ulama Bantaeng, kepada Tribun menceritakan pasangan jenazah ini sempat disemayamkan di rumah duka, Perumahan Gowa Residence, tak jauh dari rumah salah seorang anaknya, di Kompleks Katangka, Gowa.
Di rumah duka, dua jenazah disandingkan.
Jenazah Pak Kiai ditutup dengan batik merah marun dan Alquran di bagian dada.
Sedangkan janazah istrinya dibungkus dengan batuk motif cokelat.
Jenazah pasangan suami istri ini dibawa ke Bantaeng, usai salat subuh.
Jaelani menceritakan, almarhum sejak sepeninggal istri pertamanya, Hj Sitti Djawiah, 6 tahun lalu, Kiai Idris memilih bermukim di Makassar.
Saat Pak Kiai menikah, usia Sanibah sudah 68 tahun.
Dia ditemani St Sanibah Binti Haruna, yang juga masih kerabat mendiang isri pertamanya.
Dari istri pertama, Pak Kiai dikaruniai lima anak; tiga pria dua wanita.
Sedangkan dari mendiang istri terakhirnya, Pak Kiai tak dikaruniai anak.
“Pak Kiai menikah enam tahun lalu, agar ada teman ngobrol, teman ngaji, bangunkan sahur,” kata Jaelani, yang juga Kabag Tata Usaha Kantor Kemenag Bantaeng.
Almarhum menjabat Ketua Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Bantaeng periode 1995-2005.
Almarhum adalah guru madrasah dengan jabatan terakhir Kepala Kantor Departemen Agama (Kakandepag) Bantaeng tahun 1989 sampai tahun 2000.
Kiai Haji Idrus Makkawaru dilahirkan di Bantaeng, 8 Juli 1944, atau setahun sebelum Kemerdekaan RI.