Wabah Corona di Kallsel
Kaitan Pandemi, Pertambangan dan Perekonomian Kalsel Menurut Tim Pakar Penanganan Covid-19 ULM
Industri pertambangan yang dihantam efek pandemi covid-19 dipastikan ikut menyeret dan menjadi faktor pelambatan pertumbuhan perekonomian Kalsel.
Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Eka Dinayanti
Editor: Eka Dinayanti
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Industri pertambangan yang dihantam efek pandemi covid-19 dipastikan ikut menyeret dan menjadi faktor pelambatan pertumbuhan perekonomian Kalsel.
Hal ini menjadi salah satu kesimpulan kajian yang dilakukan dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan yang juga anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan COVID-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin, SE., MSI., Pg.D.
Menurut Muttaqin, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Kalsel pada triwulan II 2020 (YoY) mengalami kontraksi sebesar -2,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019.
Jatuhnya perekonomian Kalsel pada triwulan I ini menurutnya adalah hal yang tidak dapat dielakkan karena pandemi covid-19 tidak hanya membuat roda perekonomian mengalami kemacetan di Kalimantan Selatan, tetapi juga terjadi hampir di seluruh belahan dunia.
• Sakit Hati Azis Gagap pada Andre Taulany Diungkap Parto Patrio, Nunung: Jadi Tersinggung Dong
• Sindiran Bu Tejo Tilik Soal Raffi Ahmad Bikin Nagita Bereaksi, Bu Tejo: Pencitraan Ya Kayaknya
• Ancaman Ashanty Setelah Anang Janjikan Ini Jika Sule Menikah, Ibu Azriel: Jangan Tanya Ketiga Kali
Virus Corona (SARS-CoV-2) yang ukurannya sangat kecil ini dalam waktu singkat menyebar dan menggerogoti kesehatan masyarakat dan juga pertumbuhan ekonomi.
-Suramnya Harga Batu Bara
Pada triwulan II Tahun 2020 ini, sebagian besar sektor perekonomian Kalsel pertumbuhannya mengalami kontraksi akibat digerogoti pandemi covid-19.
Termasuk tiga sektor ekonomi paling besar yang nilainya hampir setengah dari nilai PDRB Kalsel, yaitu pertambangan, pertanian dan industri juga mengalami pertumbuhan negatif.
Bahkan sektor pertambangan memberikan sumbangan sebesar -1,5 persen dari -2,6 persen pertumbuhan Kalsel.
Dijelaskannya, sektor pertambangan Kalsel sudah mengalami perlambatan sejak triwulan I 2019.
Bahkan pada triwulan IV, pertumbuhan sektor ini minus 1,5 persen meskipun sempat rebound ke 0,1 persen pada triwulan I 2020.
Dengan pertumbuhan -6,0 persen, peranan sektor pertambangan dalam perekonomian Kalsel mengalami penyusutan sebesar -2,2 persen dibanding triwulan I 2020.
"Suramnya sektor pertambangan tidak lain adalah akibat jatuhnya harga batu bara di pasar internasional," kata Muttaqin.
Berdasarkan harga acuan batu bara yang dirilis oleh Kementerian ESDM, nilainya mencapai USD 108 per ton pada Agustus 2018.