Ekonomi dan Bisnis
Masih Pandemi Covid-19, Nilai Ekspor Kalsel Naik
Nilai ekspor Banua naik setelah selama pandemi Covid-19 mengalami naik. Sementara nilai impor justru turun.
Penulis: Nurholis Huda | Editor: Hari Widodo
Mengenai impor menurut negara asal, dia merincikan, tertinggi berasal dari Singapura yang mencapai USD25,29 juta. Diikuti Malaysia, USD6,36 juta dan Tiongkok, USD1,02 juta.
"Singapura jadi yang tertinggi karena kontribusi impornya mencapai 75,35 persen, dari total nilai impor Kalsel," rincinya.
Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan, neraca perdagangan ekspor impor Kalsel pada Oktober 2020 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD319,07 juta.
“Nilai tersebut lebih besar dibandingkan neraca perdagangan pada bulan September 2020 yang surplus USD288,77 juta,” paparnya.
Menanggapi data dari BPS Kalsel, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani menjelaskan, naiknya nilai ekspor Banua didorong oleh kondisi ekonomi dunia yang mulai bergerak positif.
"Industri manufaktur sudah mulai berproduksi, sehingga permintaan beberapa komoditas bahan baku dari Kalsel semakin meningkat. Seperti Batubara, CPO dan karet alam," jelasnya.
Baca juga: Kalsel Ekspor Perdana Komoditi Belut Sebanyak 1.550 Kilogram ke Cina
Di samping itu, dia menuturkan, harga beberapa komoditas di pasar internasional juga mulai membaik, terutama sawit. Sehingga menambah spirit bagi pelaku usaha perkebunan sawit untuk meningkatkan produksinya dan memperluas pasar.
"Kenaikan ekspor juga lantaran lahirnya beberapa produk/komoditi baru non tambang dari Kalsel yang mulai memasuki pasar ekspor, antara lain Virgin Coconut Oil (VCO), belut dan produk UKM lainnya," pungkasnya. (banjarmasinpost.co.id/nurholis huda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/suasana-saat-kegiatan-ekspor-perdana-belut-ke-cina-rabu-18112020.jpg)