Berita Banjarbaru

Waspadai Lanina Moderat, Pemukiman Terbuka di Kalsel Rawan Terjangan Angin Puting Beliung

BMKG Kalsel mencatat pada Desember 2020 hingga Januari 2021 tingkat intensitas puncak musim hujan diprediksi masih tergolong cukup tinggi

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/ahmad rizky abdul gani
Diterjang puting beliung, bangunan setengah jadi di kawasan Komplek Banjar Jaya Sejahtera Kelurahan Sungai Lulut Kecamatan Sungai Tabuk Banjar Kalsel. 

Editor : Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Masyarakat di Kalimantan Selatan diminta untuk tetap selalu waspada terhadap potensi bencana alam di kawasan permukiman terbuka.

Pasalnya, BMKG Kalsel mencatat pada Desember 2020 hingga Januari 2021 tingkat intensitas puncak musim hujan diprediksi masih tergolong cukup tinggi.

Prakirawan Iklim Klimatologi (BMKG) Kelas I Banjarbaru, Khairullah mengatakan, apabila suatu daerah tergolong ke dalam wilayah atau kawasan permukiman terbuka. Maka, potensi bencana alam seperti puting beliung cukup rawan terjadi.

"Saat ini masih dalam kondisi La Nina. Bahkan, salah satunya, kawasan terbuka yang rawan contoh saja, Gambut di Kabupaten Banjar, Banjarmasin dan Batola," katanya. 

Baca juga: BMKG Kalsel Ingatkan Dampak La Nina, Waspada Hujan Intensitas Tinggi

Baca juga: Bupati Banjar Serahkan Bantuan untuk Korban Puting Beliung di Sungai Tabuk

Kendati tengah menghadapi kondisi La Nina, dia mengungkapkan, potensi hujan deras disertai petir juga patut diwaspadai oleh seluruh masyarakat di Kalimantan Selatan.

Disamping itu, angin kencang pun sering dijumpai dalam beberapa bulan hingga pekan terakhir.

"Karena puncak musim hujan sebagai besar di Kalsel terjadi pada Desember 2020 - Januari 2021 dan saat ini masih masuk dalam kondisi La Nina," tuturnya.

Dia mengingatkan, selain mewaspadai adanya bencana lain seperti banjir.

Ternyata vegetasi terbuka sangat rentan terhadap sejumlah bencana berbeda halnya dengan kondisi wilayah vegetasi yang tertutup.

"Apabila suatu daerah masih ditumbuhi dengan tumbuhan pohon, kemungkinan susah terjadi bencana. Contohnya mampu menahan goncangan angin. Tetapi, bukannya tidak bisa terkena, hanya saja tingkat kerawanan kurang," paparnya.

Ia menyebut, terjadinya hujan dengan intensitas cukup tinggi juga diakibatkan karena adanya angin monsunal barat.

Melalui analisis Klimatologi dari BMKG Kalsel, hujan yang terjadi selama 10 harian (dasarian) di Kalimantan Selatan antara barat dan timur memiliki perbedaan yang cukup jauh.

"Perbedaannya, bagian barat dilanda hujan dengan tingkat intesitas tinggi sedangkan dibagian timur wilayah Kalsel bisa saja berbeda," ungkapnya.

Secara global untuk tingkat curah hujan di Kalimantan Selatan (Kalsel), diakuinya, masih masuk dalam kategori intensitas tinggi, terhitung sejak November, Desember 2020 hingga Januari 2021 diprediksi masih mengalami curah hujan cukup tinggi sehingga kewaspadaan juga menjadi perhatian serius.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved