Berita Internasional
MASIH Ingat Kecelakan Boeing 737 Max yang Menewaskan 346 Penumpang, Sekarang Diizinkan Terbang
Kecelakaan pertama pesawat tersebut terjadi pada Oktober 2018 lalu, ketika pesawat Lion Air jenis Boeing 737 Max jetuh di perairan Indonesia.
Editor : Didik Trio Marsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID, LONDON - Masih ingat dua kecelakaan Pesawat Boeing 737 Max yang menewaskan 346 penumpangnya.
Kecelakaan pertama pesawat tersebut terjadi pada Oktober 2018 lalu, ketika pesawat Lion Air jenis tersebut jetuh di perairan Indonesia.
Sementara kecelakaan kedua melibatkan Ethiopian Airlines yang langsung jatuh setelah takeoff dari Bandar Udara Addis Ababa, hanya berjarak empat bulan dari kecelakaan pertama.
Baca juga: Tewaskan 346 Penumpang, AS Tak Akan Izinkan Boeing 737 MAX Terbang Lagi, Kecuali
Baca juga: Boeing Tutupi Keboborokan Produk 737 MAX, Terungkap Setelah Pesan Internal Karyawan Bocor ke Publik
Baca juga: Boeing Sisihkan Dana Rp 1,41 Triliun untuk Korban 737 Max, Keluarga Korban Sebut Tidak Jelas
Kemudian armada pabrikan Boeing ini dilarang terbang karena terlibat dalam dua kecelakaan mematikan, yang menyebabkan 346 orang meninggal dunia.
Boeing 737 Max dilarang untuk terbang oleh banyak regulator di seluruh dunia.
Namun saat ini, Pimpinan Agensi Keamanan Penerbangan Eropa (Europe's Aviation Safety Agency/EASA) memastikan Boeing 737 Max sudah aman untuk kembali terbang.
Dilansir dari BBC, Senin (21/12/2020) Direktur Eksekutif EASA Patrick Ky mengatakan tak ada lagi hal yang terlewatkan berdasarkan hasil analisis terakhir mengenai perubahan desain yang dilakukan oleh produsen armada tersebut.
Namun demikian kini jenis pesawat tersebut telah mendapat izin terbang kembali di Amerika Serikat dan Brazil.
EASA pun diperkirakan akan memberi izin terbang pada Boeing 737 Max di Eropa pada pertengahan Januari mendatang.
Kedua kecelakaan tersebut terjadi lantaran perangkat lunak atau software terkait kontrol penerbangan yang diduga didesain secara tidak sempurnya. Hal itu menyebabkan software tersebut beroperasi pada waktu yang salah dan membuat pesawat menukik sehingga terjatuh.

Sejak kecelakaan yang terjadi di Ethiopia, EASA telah melakukan peninjauan desain 737 Max secara independen. Sementara proses serupa juga dilakukan oleh regulator Amerika Serikat (AS), Federal Aviation Administration (FAA).
Menurut Ky, hasil peninjauan tersebut menunjukkan hasil modifikasi yang dilakukan oleh Boeing telah memperbaiki kesalahan yang mengakibatkan dua kecelakaan sebelumnya.
"Kami meninjau lebih jauh terkait kontrol penerbangan, seluruh mesin dari armada pesawat," ujar dia.
Tujuan dari peninjauan tersebut yakni untuk melihat kekurangan apa pun yang dapat menyebabkan kecelakaan terjadi.
Untuk bisa kembali terbang, pesawat yang ada sekarang harus dilengkapi dengan perangkat lunak komputer baru, serta menjalani perubahan pada kabel dan instrumentasi kokpitnya.