Berita Banjarbaru
Pola Ternak Sapi di Perkebunan Kelapa Sawit di Kalsel Jadi Percontohan
Ternak sapi memakani rum;ut di perkebunan kelapa sawit telah diterapkan di Satui, Kabupaten Tanbu, Provinsi Kalsel.
Penulis: Nurholis Huda | Editor: Alpri Widianjono
Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID BANJARBARU - Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalimantan Selatan terus menjalankan program integrasi sawit-sapi. Rasionya, 1 hektare Perkebunan Kelapa Sawit, minimal 5 ekor sapi.
Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi, pola demikian bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan.
"Penerapan integrasi sapi-sawit atau beternak sapi di lahan perkebunan sawit, sangat menguntungkan masyarakat," kata Suparmi, kemarin.
Dengan pola tersebut, lanjut dia, keuntungan yang didapat masyarakat bisa berlipat. Untuk itu, petani atau peternak tidak perlu lagi mencarikan rumput untuk pakan sapi, Sebab, telah tersedia rumput hijau di areal perkebunan.
Selain itu, lanjut dia, tidak perlu memangkas rumput yang bisa saja mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. Pasalnya, telah ada sapi yang memakan rumputnya dan di sisi lain kotoran sapi juga bisa menjadi pupuk alami untuk menyuburkan sawit.
Baca juga: Kepala Disbunnak Kalsel Periksa Pengembangan Integrasi Sapi Sawit di Satui
Baca juga: Kalsel Sumbang 3,5 Persen Produk Minyak CPO Nasional, La Nina Ancam Pasokan Minyak Sawit
"Di sisi lain, pola ini sangat membantu petani. Karena, kotoran sapi bisa menjadi biogas yang digunakan untuk keperluan memasak. Ini merupakan langkah yang baik, dilihat dari sisi perekonomian. Petani lebih berhemat sebab tidak perlu lagi membeli minyak tanah atau elpiji " kata Suparmi saat memberikan contoh program Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska).
Pola pengembangan ternak sapi di atas lahan kebun sawit dengan luasan berhektare-hektare, menurutnya, bisa diterapkan dua sistem. Masing-masing adalah sistem intensif (dikandangkan) dan sistem terintegrasi (dilepas di kebun sawit).
Keuntungan lain dari pola integrasi ini, katanya, sapi-sapi tersebut bisa digunakan sebagai tenaga kerja mengangkut buah sawit hingga ke pinggir jalan dengan menggunakan gerobak. Pola seperti ini tentu saja sangat menguntungkan petani.
Tak hanya mendorong petani sawit, Pemerintah Provinsi Kalsel juga memberikan perhatian bagi industri perkebunan sawit skala besar dalam penerapan Siska. Seperti di PT Buana Karya Bhakti (BKB) di Satui, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).
Berdasarkan catatan yang dirilis Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, penerapan Siska dimulai 2016.
Baca juga: Disbunak Kalsel Survei Calon Penerima Bantuan Hibah di HST, Sasar Peternak Sapi dan Itik
Baca juga: Sebagian Buah Kelapa Sawit Rakyat di Kabupaten Tanahlaut Ditolak Pabrik, Ini Penyebabnya
Awalnya populasi sapi hanya 300 ekor. Dalam perkembangan, sudah mencapai 815 ekor yang dilepas di lahan perkebunan seluas 5.200 hektare.
Diketahui, PT BKB memiliki lahan plasma seluas 9.000 hektare yang merupakan potensi peternakan rakyat di sekitar kebun. Pola Siska yang dikembangkan adalah 1:5 atau 1 ekor sapi untuk 5 hektare lahan kebun.
“Bagi perkebunan sawit, sapi merupakan tamu. Sedangkan kebun sawit, sebagai tuan rumah. Penerapan model kemitraan perusahaan perkebunan dengan peternak adalah melalui Sisksa berbasis agribisnis. Ini sebagai alternatif percepatan swasembada sapi di Kalsel,” urai Suparmi.
Penerapan Siska yang dikembangkan di PT BKB merupakan role model produksi sapi berbiaya rendah. Ke depannya, dapat diduplikasi semua perusahaan besar swasta lainnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/pertemuan-di-kantor-disbunnak-kalsel-bahas-pola-ternak-sapi-di-perkebunan-kelapa-sawit-23122020.jpg)