Banjir di Kalsel

Banjir di Kalsel Selalu Dikaitkan dengan Pegunungan Meratus

Banjir yang melanda 11 dari 13 Kabupaten Kota di Kalimantan Selatan, selslu dikaitkan dengan Pegunungan Meratus.

Penulis: Syaiful Anwar | Editor: Eka Dinayanti
KITLV
Pegunungan Meratus 

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Banjir yang melanda 11 dari 13 Kabupaten Kota di Kalimantan Selatan, selslu dikaitkan dengan Pegunungan Meratus.

Tak heran untuk mencegah banjir yang lebih besar, sering terdengar kata-kata Save Meratus, untuk menjaga kelestarian alamnya.

Terlepas masalah banjir, bagi masyarakat Kalsel, sebagian besar belum mengetahui sejarah nama Pegunungan Meratus.

Menurut sejarahwaran Kalsel, Mansyur SPd, MHum, didampingi Yulianni Noor dan Rabini S, penelitian ilmiah juga seakan menemui jalan buntu ketika sumber-sumber sejarah dari catatan kolonial begitu minim.

Banjir di Barabai HST Pernah Terjadi Tahun 1928, Berlangsung Sekitar 30 Jam

Tahun 1932 dan 1937 Banjir Besar Menerjang Kabupaten Banjar

Bahkan penjelajah kawakan Anton W. Nieuwenhuis yang mengadakan ekspedisi pedalaman Borneo tidak pernah bercerita tentang apapun di pegunungan ini.

Dalam tulisan klasiknya, In Centraal Borneo : reis van Pontianak naar Samarinda 1898 en 1899 (Di pedalaman Borneo: perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1898-1899), bahkan tidak menyebut nama Meratus dalam laporannya.

Dalam artikel www.historia.id dituliskan bahwa A.W. Nieuwenhuis warga Belanda seorang dokter yang juga ahli etnografi dan antropologi.

Didukung Maatschappij ter Bevondering Van Het Natuurkundig Onderzoek der Nederlandsche Kolonien (Perhimpunan untuk memajukan penelitian di daerah-daerah koloni Belanda) membentuk tiga tim yang terdiri dari para ahli ilmu pemetaan, penggalian suber alam, penelitian tentang penduduk pedalaman, serta flora dan fauna.

Dijelaskan dosen Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin ini, tim tersebut melakukan perjalanan dari Kalimantan Barat menyusuri Sungai Kapuas hingga ke hulu Sungai Mahakam dan berakhir sampai ke Samarinda, Kalimantan Timur.

Ekpedisi ini tidak memberikan penjelasan apa pun tentang Gunung Meratus.

Akhirnya, catatan tentang meratus hanya berisi penggambaran dengan data minim, bercampur mistis dan reka-reka yang tidak pasti.

Wajar kemudian selimut misteri gunung meratus seakan tak terbuka.

Hanya puzzle yang siap dirangkai dari beberapa kepingan-kepingan sejarah tertinggal.

Bagaikan meraba dalam gelap hingga akhirnya beberapa sumber kolonial sedikit membuka tabir.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved