Breaking News:

Berita Banjarbaru

Warga Binaan Lapas Kelas IIB Banjarbaru Dilatih Dalam Bengkel Kerja Bikin Kursi Hingga Tempe Goreng

Warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas kelas IIB Banjarbaru dapat pembinaan kemandirian Bengkel Kerja membuat berbagai produk rumah tangga.

banjarmasinpost.co.id/Khairil Rahim
Pembinaan kemandirian Bengkel Kerja di Lapas IIB Banjarbaru 

Editor: Syaiful Akhyar

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Walau hidup di dalam kerangkeng besi namun penjara di Lembaga Pemasyarakatan,  Lapas Kelas IIB Banjarbaru tidak sepenuhnya membosankan.

Warga binaan pemasyarakatan (WBP) masih bisa mengisi hari hari dengan kegiatan bermanfaat dan produktif dengan bergabung di Pembinaan kemandirian Bengkel Kerja.

Di program yang berlokasi di Latihan Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Kelas II B Banjarbaru berbagai kegiatan bisa dilakukan mulai dari membuat berbagai produk rumah tangga.

Di bengkel Kerja Giatja ini lagi lagi para WBP Lapas IIB Banjarbaru sudah disibukan dengan kegiatan masing masing. Ada yang membuat adonan batako, las besi, pertukangan hingga membuat kursi dari ban bekas.

Baca juga: Babinsa Sosialisasikan PPKM Mikro kepada Masyarakat di Pasar Bauntung Banjarbaru

Baca juga: Madu Serena dan Fusco dari Kota Banjarbaru, Pemesannya Keluarga Sultan Brunei

Baca juga: Yayasan BOSF Lepasliarkan 7 Orangutan Pakai Helikopter di Hutan Lindung Bukit Batikap Kalteng

Kegiatan teranyar adalah membuat tempe kering yang hasilnya di jual di pasaran di Kalsel.

Kepala Lapas Kelas IIB Banjarbaru, Amico Balalembang melalui Kasi Binadik, Septyawan Kuspriyo mengatakan di bengkel kerja ini sebanyak 22 WBP ikut berpartisipasi.

"Mereka berkreasi sejak pagi jinhha siang saja," kata Septa didampingi
L Kasubsi Kegiatan Kerja Lapas IIBanjarbaru Aditri.

Sebenarnya kata Septa bengkel kerja di Lapas Kelas IIB Banjarbaru ini sudah berlangsung lama namun hanya produksi tempe goreng yang baru.

"Mungkin baru satu bulanan ini kita kembangkan tempe goreng makanya tempatnya masih digabung," sebut dia.

Untuk pemasaran Septa mengaku baik hasil pertukangan maupun las digunakan untuk intern Lapas Banjarbaru saja.

"Sementara untuk tempe goreng sudah kita pasarkan ke luar hasilnya lumayan
dalam sehari bisa memproduksi 50 bungkus," ucap dia.

Saat ini yang sudah berjalan juga adalah pengembangan tanaman hidroponik dan peternakan ayam.
Ke depan pihaknya akan mengembangkan perikanan dan pertamanan juga.

Untuk pertukangan biasanya digunakan untuk kalangan sendiri begitu juga dengan las mulai dari teralis, pembuatan pot bunga dan pagar juga baru sebatas untuk lingkungan Lapas IIB Banjarbaru.

(banjarmasinpost.co.id/Khairil Rahim)

Penulis: Khairil Rahim
Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved