Berita Regional
Kampung Mati di Ponorogo Ditinggalkan Warganya, Pernah Berdiri Ponpes Ternama, Begini Kondisinya
Saat ini keberadaan kampung mati di Kabupaten Ponorogo menjadi topik perbincangan hangat dalam tiga hari terakhir
Ipin membantah bila warga meninggalkan kampung itu karena persoalan mistis. Ia meyakini seluruh tempat pasti memiliki cerita mistis masing-masing.
Warga banyak meninggalkan kampung tersebut karena kondisinya sepi.
"Dulunya banyak penghuninya. Karena tempatnya tidak ramai ada yang sudah nikah ikut pasangannya. Kemudian, yang punya anak ikut anaknya," kata Ipin.
Ipin mengatakan, sampai saat ini, belum ada satupun keluarga yang ingin kembali ke kampung mati tersebut.
Sebab, warga yang pernah tinggal di lingkungan itu sudah banyak memiliki rumah sendiri.
Meski ditinggalkan, keluarga yang memiliki aset tanah dan rumah sesekali datang ke kampung mati.
Biasanya mereka menggelar acara peringatan hari wafatnya pendahulu warga yang meninggal di kampung tersebut.
Tolak dijadikan perumahan
Ahli waris pemilik tanah dan rumah di kampung mati menolak tawaran dari pengembang untuk dijadikan komplek perumahan.
"Namun, bila dibeli untuk pembangunan pesantren ahli waris menerimanya," ujar Ipin.
Setelah viral di media sosial, banyak yang datang ke kampung mati karena penasaran.
Meski area kampung mati luas, kepemilikan tanah hanya dikuasai beberapa ahli waris.
Bekas pondok
Sementara itu, Sumarno, salah mantan warga kampung Sumbulan menyebut di wilayah itu pernah berdiri sebuah pondok pesantren tahun 1850.
"Pondok itu didirikan sekitar tahun 1850-an oleh Nyai Murtadho," kata Sumarno.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kondisi-rumah-rumah-warga-blok-tarikolot-desa-sidamukti-kecamatan-majalengka.jpg)