Berita Regional

Kampung Mati di Ponorogo Ditinggalkan Warganya, Pernah Berdiri Ponpes Ternama, Begini Kondisinya

Saat ini keberadaan kampung mati di Kabupaten Ponorogo menjadi topik perbincangan hangat dalam tiga hari terakhir

Editor: Didik Triomarsidi
Kompas.com/ALWI
Ilustrasi - Kondisi rumah-rumah warga Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, yang ditinggalkan warga karena bencana longsor dan pergerakan tanah. 

Editor : Didik Trio Marsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID, PONOROGO - Kawasan Sumbulan, Dusun Krajan I, Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan disebut sebagai kampung mati.

Pasalnya, tidak ada warga yang tinggal di sini meski ada beberapa rumah dan masjid.

Berada di ujung barat desa, Sumbulan termasuk kawasan terpencil karena berada di tengah area persawahan.

Jika ingin lewat jalur alternatif ada jembatan sesek bambu yang membelah sungai curam.

Saat ini keberadaan kampung mati di Kabupaten Ponorogo menjadi topik perbincangan hangat dalam tiga hari terakhir.

Baca juga: VIRAL Akun Bapak-bapak dari Indonesia Diblokir, Gara-garanya Kalahkan Gamer Catur Dunia di Chess.com

Baca juga: JOKOWI Ajak Rakyat Benci Produk Luar Negeri, Mendag Siap Serbu Mal dengan Produk Ini

Baca juga: FAKTA VIRAL Wanita Cantik Pamer Mobil Mewah Berplat TNI Palsu, Sebut Suami Orang yang Tak Jelas

Sebab, semenjak lima tahun lalu, kampung yang dikenal dengan sebutan Sembulan itu betul-betul sudah ditinggalkan seluruh penghuninya tanpa terkecuali.

Kepala Desa Plalangan, Ipin Herdianto membenarkan lingkungan itu sudah lima tahun terakhir tidak berpenghuni lagi.

Padahal, di areal seluas sekitar tiga hektare itu masih terdapat empat bangunan rumah permanen yang masih layak huni.

“Dahulu masih ada dua kepala keluarga. Tetapi, empat atau lima tahun lalu sudah tidak lagi yang tinggal di lingkungan tersebut,” kata Ipin, yang dihubungi Kompas.com, Kamis (4/3/2021).

Ipin mendapatkan informasi lingkungan itu ditinggali sekitar 30 kepala keluarga.

Bahkan, kampung itu ramai dikunjungi orang karena menjadi tempat menimba ilmu agama warga di Desa Plalang.

Namun, lambat laun, warga yang tinggal di kampung itu memilih pindah mengikuti keluarga di lokasi yang lain.

Meski tidak berpenghuni, masih terdapat mushala tua yang masih dipakai warga untuk menjalankan ibadah shalat zuhur dan asar.

Warga yang memanfaatkan mushala itu rata-rata petani yang memiliki sawah di dekat lingkungan tersebut.

“Mushala masih sering dipakai untuk beribadah. Dan selalu dibersihkan setiap hari,” kata Iping.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved