Berita HST

Mencicipi Keripik Legend di Desa Batu Tangga HST, Dibuat Sederhana Tapi Rasanya Gurih dan Renyah

Keripik pisang di Desa Batutangga, Kecamatan Batangalai Timur (BAT) HST dibuat secara sederhana. Namun, punya cita rasa yang gurih dan renyah

Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/hanani
Perajin keripik Pisang di Desa Batu Tangga, HST. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Keripik pisang memang jenis camilan yang sudah umum. Banyak perajin dari berbagai daerah, memproduksinya, lalu dijual ke toko-toko hingga mini market.

Namun, keripik pisang di Desa Batutangga, Kecamatan Batangalai Timur (BAT), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) ini berbeda.

Tak hanya beda penggunaan jenis pisangnya. Tapi juga cara membuat dan cita rasanya.

Meski diproduksi secara sederhana, cita rasanya tak kalah dengan keripik yang dibuat dengan cara dan kemasan modern.

Baca juga:  Job Nyanyi Banyak Dibatalkan saat Banjir Kalsel, Penyanyi Banua Ini Jual Keripik Singkong

Baca juga: Dampak Covid-19, Usaha Keripik dan Kacang Goreng Pelaku UMKM di Banjarmasin Ini Masih Terpuruk

Baca juga: VIDEO Penjual Keripik di Pasar Induk Amuntai Mulai Kedatangan Pembeli

Ya, keripik pisang keriting buatan perajin di desa ini begitu “legendaris”.

Dibilang legendaris, karena penjualnya sudah menempati lokasi tersebut lebih dari 10 tahun, dengan cara membuat dan bahan yang digunakan juga tak berubah.

Terletak di pinggir sungai Batangalai, Keripik pisang yang diberi merk Keripik keriting ini dibuat secara tradisional.

Bahan pisang yang digunakan, adalah jenis pisang kapas, pisang lokal yang kalau  dikonsumsi buah matangnya tidak begitu enak.

Namun, justru lebih enak diolah saat mentah, baik menjadi sayur atau rujak.

Nurdin, perajin keripik itu pun memasaknya dengan cara unik.

Pisang segar yang sudah dikupas dan dicuci, langsung dipotong-potong dan dicemplungkan ke wajan yang minyaknya sudah panas.

Dia menggunakan pisau potong khusus secara  manual sehingga sekali menggoreng menghasilkan satu kilogram lebih keripik.

Tiap hari, Nurdin mengaku membuat 60 bungkus plastik kripik. Satu bungkus dijual hanya Rp 5.000. Sebelum dikemas, keripik diberi garam dan penyedap rasa.

“DImakan selagi panas lebih gurih. Makanya banyak yang mampir beli dan makan di tempat ini,”ungkap Nurdin. 

Nurdin membuat keripik ini masih secara tradisional. Menggunakan tungku dengan bahan bakar bakar batang bambu. Tiap hari rata-rata menghabiskan lima tandan pisang kapas dan pisang ambon.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved