Breaking News:

Berita Balangan

Budaya Adat Mesiwah Pare Gumboh Desa Liyu Diusulkan Jadi Warisan Budaya Non Benda

Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan, usulkan kebudayaan yang ada di Balangan untuk menjadi warisan tak benda.

Penulis: Isti Rohayanti | Editor: Edi Nugroho
Banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti
Rangkaian pelaksanaan Mesiwah Pare Gumboh yang diadakan di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN- Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan, usulkan kebudayaan yang ada di Balangan untuk menjadi warisan tak benda.

Sedikitnya, 10 kebudayaan yabg ada di wilayah Bumi Sanggam ini akan didaftarkan ke pemerintah pusat dan tahap usulan untuk menjadi menjadi warisan tak benda yang dimiliki Kabupaten Balangan.

Kasi Sejarah dan Kebudayaan Disdik Balangan, Fahriati menjelaskan, 10 warisan tak benda yang dimaksudkan merupakan perayaan adat yang rutin berlangsung setiap tahunnya. Apalagi budaya adat tersebut masih begitu kental di Kabupaten Balangan. Terutama pada beberapa desa tertentu.

Selain itu ada pula kesenian dan makanan khas yang ada di Balangan.

Baca juga: Anggota DPRD Kotabaru Gewsima Mega Putra: Legislator Cuan 1.000 Persen dari Crypto dan Pasar Modal

Baca juga: PSU Pilgub dan Pilwali Banjarmasin 2020, Bawaslu Siap Berburu Ratusan Pengawas Adhoc

"Sebenarnya ada 10 warisan budaya tak benda yang akan diajukan di tahun 2021, yaitu Mesiwah Pare Gumboh, I’Lau, Bausung Pangantin, Bapapai, Tari Gintur, Mandai, Sumpit, Kasapi, Salon, dan Miulahan," ucap Fahriati, Rabu (24/3/2021).

Saat ini jelas Fahriati, pihaknya meneliti dan mengkaji lebih mendalam terkait sepuluh kebudayaan tersebut. Tentunya hal itu untuk melengkapi persyaratan teknis terkait pengusulannya ke pemerintah pusat.

Beberapa waktu lalu, pihaknya juga telah mendatangi Desa Liyu untuk peninjauan kebudayaan yang ada disana. Satu di antaranya yakni Mesiwah Pare Gumboh yang digelar besar-besaran sejak beberapa tahun lalu.

Budaya ini merupakan adat dari suku Dayak Deah yang berada di wilayah Desa Liyu dan Desa Upau yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong. Budayanya pun dianggap masih cukup kental yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat.

Ucap Fahriati, selain Mesiwah Pare Gumboh, tim Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan pun akan melakulan inventarisir terhadal budaya yang akan diusulkan.

Dalam setiap kunjungan ke lokasi di mana budaya tersebut eksis, lanjut Fahriati, pihaknya meminta keterangan lebih jelas kepada tokoh budaya dan masyarakat setempat terkait budaya tersebut secara detail.

Sebagaimana diketahui, Mesiwah Pare merupakan tradisi Dayak Deah yang paling gampang dan rutin dilaksanakan. Dalam tiga tahun terakhir dibuka untuk bisa disaksikan secara umum. Bahkan dijadikan festival oleh pemerintah setempat.

Mesiwah Pare yang artinya selamatan syukuran pasca panen juga diiringi doa-doa dan ritual bentuk syukur warga atas hasil panen setiap tahunnya.
(Banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved