Breaking News:

Berita Banjarmasin

Sidang Dugaan Penipuan, Mantan Bupati Balangan Sebut Tak Pernah Berhutang ke Pelapor

Sidang perkara dugaan penipuan yang menyeret nama Mantan Bupati Balangan, H Ansharuddin kembali digelar di Pengadilan Negeri Banjarmasin, Jalan DI Pan

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Edi Nugroho
Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody
Mantan Bupati Balangan H Ansharuddin memberikan kesaksian sebagai terdakwa di Sidang Pengadilan Negeri Banjarmasin 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sidang perkara dugaan penipuan yang menyeret nama Mantan Bupati Balangan, H Ansharuddin kembali digelar di Pengadilan Negeri Banjarmasin, Jalan DI Pandjaitan, Kota Banjarmasin, Kamis (15/7/2021).

Dipimpin Ketua Majelis Hakim, Aris Bawono Langgeng, sidang lanjutan kali ini beragendakan pemeriksaan kesaksian terdakwa.

Mengenakan batik bercorak merah, terdakwa H Ansharuddin didampingi penasihat hukumnya menjawab sederet pertanyaan yang bergantian dilontarkan Jaksa Penuntut Umum, penasihat hukum dan Majelis Hakim.

Dihadapan sidang, terdakwa menguraikan terkait pertemuan dan interaksi antara dia dengan saksi pelapor dalam perkara ini yaitu Dwi.

Baca juga: Pelaku Penipuan Arisan Online Berhasil Dibekuk Personel Polsek Tapin Utara

Baca juga: Transaksi Berujung Penipuan, Motor Pria Basirih Banjarmasin ini Justru Dibawa Kabur

Baca juga: Transaksi Berujung Penipuan, Motor Pria Basirih Banjarmasin ini Justru Dibawa Kabur

Baca juga: Baim Wong Sorot Penipuan Giveaway & Pinjaman Online, Konten Suami Paula Verhoeven Sempat Dilarang

Terdakwa mengatakan, pertamakali dikenalkan dengan Dwi oleh saksi Mukhlisin dan disebut bahwa Dwi bisa membantu persoalan hukum yang tengah menyeret terdakwa.

Dwi kata terdakwa mengaku kepada dirinya sebagai pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan dapat menghubungkannya dengan Mabes Polri agar dapat terhindar dari persoalan hukum.

Selanjutnya saat berada di Jakarta, Ia dipertemukan Dwi dengan enam orang yang disebutnya sebagai Anggota Polri dan bertugas di Mabes Polri.

"Dia bilang bisa dibantu diselesaikan persoalan saya. Jadi dia minta Rp 150 juta untuk setiap orang itu. Ada enam orang, dibulatkan jadi Rp 1 miliar," kata H Ansharuddin.

Tidak langsung diberikan karena terdakwa meminta waktu untuk menyediakan uang tersebut, Dwi menurut terdakwa terus menanyakan kepada dirinya kapan akan mencairkan uang Rp 1 miliar tersebut.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved