BTalk
BTalk, Peran Ulama di Hari Kemerdekaan
Wakil Ketua PCNU Banjarmasin, Suriani Amin, sebut di acara BTalk ulama kobarkan semangat juang melawan penjajah dan kini berjuang bantu pembangunan.
Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Peran ulama mendirikan Republik Indonesia tak bisa dipungkiri. Tak hanya mengangkat senjata, tetapi juga mengobarkan semangat perjuangan di seluruh Tanah Air.
Termasuk peran ulama di Kalimantan Selatan, baik saat melawan penjajah di masa dulu dan tentunya peran dalam kehidupan dan pembangunan di masa sekarang
Peran Ulama di Hari Kemerdekaan itu menjadi tema perbincangan yang menarik di BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa Saja, Kamis 19 Agustus 2021.
Program ini menghadirkan narasumber Suriani Amin SAg SPdI, Wakil Ketua PCNU Kota Banjarmasin yang juga anggota MUI Kecamatan Banjarmasin Selatan.
Perbincangan bersama Jurnalis Banjarmasin Post, Muhammad Kamardi, ini juga ditayangkan live dan bisa disimak kembali di kanal Youtube Banjarmasin News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online.
Baca juga: BTalk, Pelajar Kalsel Jadi Anggota Paskibraka di Istana Merdeka pada HUT Ke-76 RI
Baca juga: BTalk, Ketua Psikolog Kalsel Sukma Noor Akbar Ingatkan Orangtua tentang Anak Gunakan Gadget
Dipaparkan Suriani, jauh sebelum kemerdekaan, sudah ada kerajaan Islam pertama di Tanah Air, yaitu Kerajaan Samudera Pasai di pesisir Sumatera.
Kemudian pada abad 16 tepatnya tahun 1596 datang rombongan kapal Kerajaan Belanda yang dipimpin Cornelis de Hotman untuk membeli rempah-rempah antara lain lada, pala, cengkeh yang sangat laku diperdagangkan di negara-negara Eropa.
Dengan berlimpahnya sumber daya alam di Nusantara, maka dari awalnya berdagang kemudian berlanjut menjajah sehingga berbagai bidang kehidupan mereka kuasai. Termasuk, menguasai agama.
"Penjajah Belanda membatasi ruang gerak ulama. Pendidikan masyarakat juga dibatasi hanya sampai SR atau sekolah rakyat. Hanya anak bangsawan atau orang kaya yang bisa sekolah lanjutan," jelasnya.
Adapun para tokoh Islam yang bersikap tegas atas kesewenangan penjajah itu, antara lain Sultan Hasanudin dari Sulawesi Selatan, Tuanku Imam Bonjol dari Sumatera Barat.
Kemudian, Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro, Cut Nyak Dien dari Aceh. Pangeran Diponegoro dari Jawa Tengah, selain itu Pangeran Antasari dari Kalimantan Selatan.
Banyak pula tokoh daerah lainnya yang melawan penjajah, di antaranya Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy dari Maluku.
Para tokoh Islam kemudian menggerakan massa atau jamaahnya untuk melawan penjajah. Walaupun tanpa peralatan modern, mereka terus maju.
Sebagaimana Pangeran Antasari yang menyadari pejuang Banjar hanya pakai senjata tradisional, tapi mampu semangati mereka dengan keyakinan adanya pertolongan Allah SWT.
"Pangeran Antasari menggelorakan semangat waja sampai kaputing. Mati syahid, semangat jihad. Beliau membangkitkan rakyat untuk berjuang mengusir penjajah dari negeri kita," jelas Suriani.
Baca juga: BTalk, Ekonomi Syariah di Masa Pandemi Menurut Akademisi Uniska MAB Kalsel
Baca juga: BTalk, Psikolog dari ULM Kalsel Galuh Dwinta Sari Imbau Orangtua Cermat Melihat Bakat Anak
Namun disadari bahwa perjuangan itu menemui kekalahan, bukan hanya karena soal persenjataan dan jumlah pasukan, tapi juga belum bersatunya para pemimpin sebab masih berjuang di daerah masing-masing.
Lantas, setelah lama terjajah, banyak tokoh Islam berjuang melalui jalur politik. Tatkala Soekarno dan Muhammad Hatta didaulat memproklamasikan kemerdekaan, sebelumnya mereka juga kordinasi dengan para ulama.
"Soekarno dan Hatta menemui Kyai Musa dan tokoh Muhammadiyah. Saat diminta tanggapan tentang kemerdekaan, kedua ulama tadi sepakat bahwa kalau tidak memerdekakan negara kita saat ini juga, maka negara ini baru bisa merdeka setelah 300 tahun lagi," papar Suriani.
Begitu juga ketika menemui pendiri NU, yaitu KH Hasyim Asy'ari, dan dijawab bahwa sudah bicara dengan pihak angkatan laut di Jepang dan menyetujui kemerdekaan itu.
"Proklamasi pada 17 Agustus itu bertepatan dengan 9 Ramadhan. Sebuah kemuliaan karena tanggal 17 juga mengandung arti 17 rakaat shalat fardhu sehari semalam dan sudah jelas bulan Ramadhan adalah bulan suci," jelas Suriani.
Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, banyak pula tokoh Islam dari Kalsel yang berjasa bagi negara, yaitu Brigjend Hasan Basri. pejuang yang alim dengan pengetahuan agama yang mendalam. Adapula KH Idham Chalid yang kemudian menjadi salah satu menteri.
Dalam mengisi kemerdekaan saat ini, Suriani menjelaskan, para ulama juga berperan mengajak masyarakat untuk mensyukuri kemerdekaan.
Salah satu bentuk syukur itu dengan memeringati kemerdekaan secara keagaamaan melalui majelis taklim, membaca Yasin dan tahlil untuk pahalanya dihadiahkan kepada para pahlawan.
"Mengisi kemerdekaan itu sebenarnya lebih berat dibanding merebut dan mempertahankan. Sebagaimana sabda Rasulullah usai perang Badar, bahwa setelah kemenangan itu bukannya tak ada lagi musuh. Sebab, kita masih akan menghadapi musuh yang lebih berat, yaitu hawa nafsu," papar Suriani.
Makanya, lanjut dia, jangan terlena. Terutama generasi muda, jika salah pengaruh, maka dampaknya merusak moral.
Baca juga: Program BTalk, Memaknai Ujian Pandemi di Tahun Baru Islam
Baca juga: BTalk, Kenali dan Antisipasi Penyakit Diabetes Melitus
"Mengisi kemerdekaan ini, mari kita terus tanamkan pendidikan agama kepada generasi muda agar mereka punya adab, punya aturan dalam hidup. Sebab, kata tokoh bangsa, kita ini banyak punya orang pintar, tapi kita kekurangan orang jujur," pungkasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/waket-nu-banjarmasin-yang-juga-anggota-mui-kecamatan-banjarmasin-selatan-suriani-amin.jpg)