BTalk

BTalk, Kenali dan Antisipasi Penyakit Diabetes Melitus

Menurut dosen FKIK UM Banjarmasin, Yurida Olviani, saat bincang di BTalk, sakit diabetes bisa dicegah dan juga ditangani dengan pola hidup sehat.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/SALMAH SAURIN
Dosen FKIK dan Kepala Laboratorium FKIK Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin, Yurida Olviani Ns MKep, menjelaskan tentang diabetes melitus pada program BTalk yang dipandu jurnalis Banjarmasin Post, M Risman Noor, Selasa (3/8/2021) pukul 16.00 Wita. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Diabetes melitus (DM) atau penyakit gula sudah jamak dialami sejumlah orang saat ini.

Bahkan Si Manis ini tak mengenal usia. Parahnya, tak sedikit orang harus diamputasi bagian organ tubuh untuk memutus penyebaran luka yang diakibatkan penyakit gula. 

Nah, sewajarnya mengenali penyakit DM sedini mungkin. Berikut penjelasan dari Yurida Olviani Ns MKep pada program BTalk, Banjarmasin Post Bicara Apa Saja, Selasa (3/8/2021) pukul 16.00 Wita. 

Perbincangan tersebut dipandu Jurnalis Banjarmasin Post, M Risman Noor, dan bisa pula Anda simak di kanal Youtube Banjarmasin News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online.

Dijelaskan Yurida, penyakit DM adalah gangguan metabolisme yang disebabkan gangguan gula dalam darah. Glukosanya melebihi batas normal sehingga kekurangan insulin. 

Baca juga: Btalk, Tetap Bisa Latih Kemandirian Meski Menikah Tetap Nebeng Ortu

Baca juga: BTalk, Menurut dr Vina dari RSUD Ansari Saleh untuk Atasi Vitiligo yang Bisa Bikin Depresi

"Gejala antara lain sering lapar, sering haus, cepat lelah, berat badan turun. Kemudian sering buang air kecil apalagi malam hari, ini karena hormon mengatur kencing menurun hingga paling rendah pada malam hari sehingga memicu infeksi saluran kemih," paparnya. 

Secara ukuran kadar gula dalam darah, maka penderita DM ini untuk kadar gula saat puasa angka ha lebih dari 126mg/do.

Kada gula dua jam pasca makan lebih dari 200 mg/dl. Dan kadar gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dl. 

"Jika angka-angka tadi sudah melebihi ambang batas, maka harus waspada," ujar dosen FKIK dan Kepala Laboratorium FKIK Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin ini.

Faktor pemicu DM ini antara lain obesitas (kegemukan), stres dan gaya hidup tidak sehat. Dan penderita DM ini juga bisa terjadi pada anak-anak. 

Dosen FKIK dan Kepala Laboratorium FKIK Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin, Yurida Olviani Ns MKep, menjelaskan tentang perlunya mengetahui, mencegah dan membantu seseorang yang menderita diabetes melitus, pada program BTalk yang dipandu jurnalis  Banjarmasin Post, M Risman Noor, Selasa (3/8/2021) pukul 16.00 Wita.
Dosen FKIK dan Kepala Laboratorium FKIK Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin, Yurida Olviani Ns MKep, menjelaskan tentang perlunya mengetahui, mencegah dan membantu seseorang yang menderita diabetes melitus, pada program BTalk yang dipandu jurnalis Banjarmasin Post, M Risman Noor, Selasa (3/8/2021) pukul 16.00 Wita. (BANJARMASINPOST.CO.ID/AYA SUGIANTO)

"Anak-anak bisa kena DM tipe satu. Tipe satu itu akibat autoimun atau kekebalan tubuh turu sehingga kemampuan tubuh memproduksi hormon insulin terganggu. Ini organ yang bermasalah pada pankreas," jelas Yurida. 

Sedangkan DM tipe dua, hormon insulinnya ada, tapi tidak berfungsi secara efektif memindahkan glukosa ke sel sehingga terjadi pengumpulan gula darah. 

Di masyarakat juga ada sebutan DM basah dan DM kering. Istilah ini memang tidak ada dalam dunia medis, hanya istilah yang biasanya ditujukan untuk kondisi luka. 

"DM basah itu ada nanah yang lukanya tak kunjung sembuh dan bisa berujung amputasi. Adapun DM kering, lukanya menghitam dan tak kunjung membaik," papar Yurida. 

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved