Breaking News:

Berita HST

Dua Alat Berat Kembali ke Batu Harang Haruyan HST, Masyarakat Dijanjikan Fee Tambang Ilegal

Rencana menambang batu bara secara illegal di Gunung Batu Harang, Desa Mangunang Haruyan tampaknya terus berlanjut. Dua alat berat pun diturunkan

Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
Dok BPost
Alat berat dan jalan menuju ke lokasi lahan yang dibuka untuk penambangan batu bara di Batu Harang, Desa Haruyan Seberang Kecamatan Haruyan, Hulu Sungai Tengah. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Rencana menambang batu bara secara illegal di Gunung Batu Harang, Desa Mangunang Seberang Kecamatan Haruyan tampaknya terus berlanjut.

Meski pertengahan September 2021 lalu alat berat yang masuk sudah disita tim dari Polda Kalsel, anehnya mereka kembali menurunkan alat berat tersebut ke lokasi yang sama, yaitu lokasi jalan baru yang dibangun sekitar 300 meter.

“Bahkan saat ini, sudah ada dua alat berat kembali naik ke lokasi,”ungkap salah satu sumber banjarmasinpost.co.id, di Haruyan, Selasa (5/10/2021).

DIjelaskan, hingga kini pihak KUD Karya Nata terus melakukan sosialisasi kepada warga di empat Desa, yaitu DesaMangunang Seberang, Haruyan Seberang serta dua desa yang masuk kecamatan Labuanamas Selatan, yatu Sunggai Jaranih dan Sarintan.

Baca juga: Warga HST Dibikin Resah Ada Penambangan Batu Bara di Batu Harang HST

Baca juga: Bahas Ilegal Mining di DPRD HST, Camat Sebut Tak Tahu Pemilik Alat Berat di Gunung Batu Harang

Desa-desa tersebut merupakan akses langsung angkutan, dimana para penambang berencana menggunakan jalan umum tersebut untuk dilewati.

Menurut sumberdi Desa Mangunang Seberang maupun Haruyan Seberang, 90 persen masyarakat setempat menolak, karena mereka menyadari dampaknya.

Tak hanya terhadap jalan, tapi juga terhadap air sungai, serta dampak sosial lainnya.

“Memang mereka, pihak penambang yang mengatasnamankan KUD tadi menjanjikan memperbaiki jalan. Tapi masyarakat tetap tak ingin ada penambangan,”ungkap sumber yang tak mau namanya disebut dengan alasan saat ini, terjadi pro kontra dan rawan adu domba.

Dijelaskan, saat ini pihak penambang yang mengaku dari Binuang teersebut melakukan sosialisasi kepada warga. Bahkan juga menjajikan fee dari setiap metrik ton batu bara hasil tambang untuk empat desa.

Berdasarkan surat yang beredar, seseorang berinisial FH melalui surat pernyataan di atas materai menyebutkan besarnya fee untuk empat desa tersebut. Yaitu, Rp 16 ribu per metrik ton untuk desa, atau Rp 4000 per metrik ton untuk masing-masing desa. Rp 25 ribu per metrik ton untuk membayar fee lahan dan 10.000 per metrik ton untuk KUD KArya Nata.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved