Berita Banjarmasin

Polemik Level PPKM Banjarmasin, Begini Analisa Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM

Analisa Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM terkait polemik status PPKM Banjarmasin

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Hari Widodo
Humas ULM
Anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin, SE., MSI., Pg.D, 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Untuk kesekian kalinya terjadi ketidakselarasan antara Pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Pusat terkait data-data indikator penanganan Covid-19 di kota berjuluk Seribu Sungai.

Keputusan Pemerintah Pusat yang kembali menetapkan status Kota Banjarmasin dalam Level 4 Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kembali diperdebatkan oleh Pemko Banjarmasin. 

Terkait hal ini, Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin mengatakan, ada sejumlah faktor yang mendasari perbedaan persepsi tersebut. 

"Ada empat faktor yang kira-kira menjadi penyebab ditetapkannya Banjarmasin dalam PPKM Level 4," kata Muttaqin, Jumat (8/10/2021).

Baca juga: Protes Vonis PPKM Level 4 Direspon Jubir Kemenko Perekonomian, Ini Tanggapan Wali Kota Banjarmasin

Baca juga: Banjarmasin PPKM Level 4, RSUD Sultan Suriansyah Ternyata Kosong Pasien Covid-19

Baca juga: Masih PPKM Level 4, PTM SD dan SMP di Banjarmasin Tetap Berlanjut, Begini Penjelasan Kadisdik

Pertama kata dia, selama satu pekan terakhir hingga Tanggal 4 Oktober Tahun 2021, kematian penderita Covid-19 di Banjarmasin melonjak sebanyak  27 orang.

Hal ini rupanya menyebabkan asesmen indikator Transmisi Komunitas di Kota Banjarmasin naik dari level 2 ke level 3 sejak 27 September. 

"Karena satu minggu sebelumnya nol kasus, kemudian menjadi 4 kasus kematian per 100 ribu penduduk," terangnya. 

Kedua, capaian tracing Banjarmasin pada masa evaluasi sebelumnya masih berada di level Rasio Kontak Erat di atas 3. 

Kondisi tak optimalnya pelacakan kontak erat itulah kata dia yang juga membuat Kapasitas Respon sistem kesehatan pada saat itu masih dianggap terbatas. 

Sedangkan, untuk merubah status itu menjadi memadai, Rasio Kontak Erat minimal berada pada level 5.

Ketiga, meski raihan tingkat vaksinasi Banjarmasin telah mencapai 50 persen dari target realisasi vaksinasi dosis pertama dan tertinggi di Kalsel, namun sebarannya dari aspek demografis belum optimal. 

Contohnya, vaksinasi untuk kalangan lansia baru mencapai 25 persen dari target. 

Padahal, lansia merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan jika terpapar Covid-19, karenanya percepatan vaksinasi lansia menjadi sangat penting.

Keempat, meski Kota Banjarmasin sendiri luas wilayahnya relatif kecil, tetapi jumlah populasi dan kepadatan penduduknya paling tinggi di Kalsel. 

Baca juga: Masih Berstatus PPKM Level 4, Ini yang akan Diterapkan Pemko Banjarmasin Hingga 18 Oktober 2021

Dimana Banjarmasin merupakan pusat agglomerasi Banjar Bakula yang mobilitas dan konektivitasnya dengan daerah tetangga tinggi. 

Ini menyebabkan Banjarmasin berada posisi yang lebih rentan sebagai episentrum pertumbuhan Covid-19. 

"Mungkin faktor ini yang menyebabkan kriteria untuk Banjarmasin lebih ketat dengan daerah lainnya di Kalsel," terangnya. (Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved