Berita HST
Datu Manggasang Curhat Soal Meratus Tersisa dan Dampak Bagi Pariwisata Kabupaten HST
Pengelola tempat wisata di kawasan Pegunungan Meratus minta Bupati HST H Aulia Oktafiandi bantu memajukan sehingga perekonomian masyarakat meningkat.
Penulis: Hanani | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Bupati Hulu Sungai Tengah (HST), H Aulia Oktafiandi, berkunjung ke Puncak Titian Musang (Putimus).
Tempat wisata yang indah itu terletak di Kampung Papagaran, Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Kabupaten HST, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Tujuan kedatangan Bupati HST H Aulia Oktafiandi, yakni menandatangani prasasti wisata Daulat Pangan.
Hal itu dimanfaatkan Muhammad Rifani yang akrab disapa Datu Manggasang untuk curhat. Melalui puisi berjudul Meratus yang Tersisa, pengelola objek wisata ini membacakannya di hadapan Bupati.
Baca juga: Pemuda Muhammadiyah Kecam Aksi Joget-joget di Cafe Dugem HST
Baca juga: Satpol PP, Ketua DPRD dan Polres HST Lakukan Razia, Pemilik Kafe Pun Bikin Pernyataan
Baca juga: Pengurus MUI Kabupaten HST Minta Pemkab Segera Merespons Kafe yang Meresahkan Masayarakat
“Wahai Penguasa Bumi Murakata. Masa depan Meratusku ada pada bapak. Bantu kami memolesnya. Menjadikan usaha atau bahkan devisa,” demikian penggalan puisi cukup panjang tersebut.
Menurut Rifani, sejumlah pengelola wisata merasakan dampak banjir bandang yang terjadi pada pertengahan Januari 2021. Fasilitas pun porak-poranda. Padahal, wisata alam itu telah membangkitkan ekonomi masyarakat.
Dirinya berharap Pemkab HST memperhatikan kawasan Pegunungan Meratus dan mendukung pengembangan potensi wisata yang selama ini memanfaatkan keindahan alamnya.
Pembina Pokdarwis Datar Bunglai, M Reza Fahlipi, juga membacakan puisi berjudul Prasasti Titian Musang.
Baca juga: Narkoba Kalsel : Tangkap Dua Pengedar, Polisi Amankan 10 Paket Sabu Saat Geledah Kamar Pria HST
Baca juga: Wisata Kalsel - Berwisata Sambil Relaksasi di Kolam Pemandian Air Panas Murung HST
Menurut Reza, masyarakat Kabupaten HST mengingatkan dan memberikan amanah kepada penguasa dan pengusaha agar tak merusak Meratus.
“Juga membantu rakyat mengelola Meratus agar menyejahterakan masyarakat dan menghasilkan devisa buat negara, tanpa merusaknya dengan izin pertambangan,” ucapnya.
Puisi berjudul Prasasti Titian Musang karya Arie Yuandani, menurutnya, menceritakan dasyatnya dampak banjir bandang dan asal mula kayu ulin yang menjadi prasasti. Prasasti itu dibuat oleh perupa atau pemahat.
Setelah pembacaan puisi, lanjut Reza, bupati memberikan respons positif. Di awal sambutan, bupati menegaskan pentingnya menjaga Pegunungan Meratus.
“Alhamdulilah, Bupati antusias menyimak bahkan memberikan applause panjang. Kedatangan ke Putimus menjadi bukti bahwa Bupati mendukung pemanfaatan keindahan alam Meratus tanpa merusaknya,” kata Reza.
(Banjarmasinpost.co.id/Hanani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/puncak-titian-musang-putimus-di-kabupaten-hst-provinsi-kalsel-03112021.jpg)