Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Kenaikan Harga LPG Non Subsidi Dikeluhkan Pelaku Usaha Kuliner

Diungkapkan Isna Alib, pembina dan pelaku UMKM di Banjarbaru, pelaku usaha kuliner yang menggunakan LPG 5,5 dan 12 Kg keberatan harga gas ini naik.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/EKA PERTIWI
Penjual makanan menggunakan LGP 3 kilogram di kawasan Kayu Tangi, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kenaikan harga LPG non subsidi ukuran 5,5 Kg dan 12 kg mulai 25 Desember 2021 banyak dikeluhkan masyarakat. Khususnya kalangan UMKM yang usahanya bidang kuliner.

Ya, kondisi usaha yang mulai bangkit dalam beberapa waktu terakhir harus dihadapkan pada perubahan biaya modal salah satu komponen operasional yaitu gas.

Seperti yang diungkapkan Isna Alib, pembina dan pelaku UMKM di Banjarbaru, beberapa pelaku usaha kuliner ada yang menggunakan gas 5,5 dan 12 Kg.

"Soalnya, gas melon 3 Kg susah didapat. Jadinya ada beberapa yang pakai ukuran besar walaupun lebih mahal tapi stok selalu ada," ujar Isna yang juga menjabat sebagai Ketua Gerakan Kewirausahaan Nasional Kalimantan Selatan ( GKN Kalsel ).

Semestinya, menurut Isna, pemerintah juga memikirkan ketersediaan LPG 3 Kg yang selama ini harganya jauh di atas HET (harga eceran tertinggi).

Baca juga: VIDEO Gubernur Kalsel Resmikan SPKLU dan Jaringan Listrik Enam Desa Kecamatan Aranio

Baca juga: Kelompok Usaha Bersama di Kabupaten Balangan Terima Modal, Upaya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

"Seharusnya kalangan UMKM dapat jatah gas melon, tapi kenyataannya kartu saja banyak yang tak dapat," tukasnya.

Lanjutnya, jika beli gas melon secara eceran dapat harga hingga Rp 30 ribu. Jauh dari harga subsidi Rp 18.500.

"Mesti dipikirkan cara UMKM mendapat harga murah. Harapan kami agar diefektifkan penyaluran gas melon untuk masyarakat miskin dan UMKM," tukasnya.

Harga gas yang tinggi sudah jelas memengaruhi keuntungan usaha apalagi bagi usaha kecil. Harapannya pula razia rutin, jangan pernah kendor. "Kenaikan gas non subsidi malah akan semakin menghilangkan gas melon," tandasnya.

Hal senada diutarakan Murjianor, pemilik Warung Aux, selama menjalankan usaha dalam setahun terakhir ini selalu menggunakan gas 5,5 Kg dengan alasan ketersediaan LPG 3 Kg sangat langka.

Baca juga: Stok LPG Nasional dan Kalimantan Aman, Pertamina Siaga 24 Jam

Baca juga: Bersamaan dengan Vaksinasi, Pasar Murah di Pandawan Kabupaten HST Dipadati Warga

"Saya terpaksa pakai yang non subsidi, terakhir beli ukuran 5,5 Kg ini Rp60 ribu. Belum tahu nanti berapa harga di pasaran," ujarnya.

Beralih ke 3 kg, baginya sangat berisiko, sebab sudah stoknya di pasaran sedikit juga harganya mahal. Sementara jika  kehabisan dan stok kosong, maka tidak bisa berjualan.

"Keperluan bahan pokok lainnya juga sedang naik, antara lain cabai. Otomatis jika banyak biaya modal yang naik maka keuntungan menipis. Hanya upah lebah saja," ungkapnya.

Harapannya, pemerintah bijak. Jangan menumpuk beban masyarakat, tapi bagaimana memudahkan usaha mereka.

(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved