Berita HST
VIDEO Uji Nyali Para Pendekar Kuntau di Desa Layuh HST
Dengan lincah Rizaludin (17) dan Nety Wulandari (15) memainkan pedang jenis Mandau.Butuh nyali besar untuk memainkan senjata tajam khas kalimantan itu
Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID - Dengan lincah Rizaludin (17) dan Nety Wulandari (15) memainkan pedang jenis Mandau.
Pedang khas Kalimantan yang cukup berat itu diputar-putar dengan gerakan cepat.
Kemudian diayun kan ke arah lawan. Jika tak konsentrasi, atau gagal fokus, bisa saja luka. Risiko terburuk, bahkan membahayakan nyawa.
Tapi hal tersebut tak membuat para remaja di Desa Layuh, Kecamatan Batubenawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan takut.
Bagi mereka, tantangan itu tak sekedar menguji nyali. Justru melatih diri disiplin dalam bermain dengan hati bersih. Bukan dengan tujuan menyerang lawan.
Tapi sekedar bagaimana cara bertahan, dan membela diri ketika menghadapi keadaan di luar dugaan. Seperti diserang secara tiba-tiba oleh orang jahat. Itulah salah satu prinsip para pemain Kuntau.
Penggabungan antara olahraga dan unsur seni, yang kini mulai dipertandingkan sebagai cabang olahraga silat tradisional. Desa layuh, berjarak sekitar 20 kilometer dari Barabai, Kabupaten HST.
Di desa itu terdapat perguruan Kuntau dengan nama Bangkui Tunggal. Sejumlah remaja dan anak-anak banyak meminati olah raga dan seni beladiri tradisional di bawah binaan Guru Besar (sebutan untuk pelatih senior kuntau) Syamsari ini.
Tercatat, ada 15 anggota perguruan saat ini. Terbentuk sejak 1977, sejumlah generasi kuntau pun dihasilkan.
Rizaludin, Wulandari, Fatina Kamal (13) dan Maulidia (13) adalah beberapa generasi baru yang dibina dan dilatih sejak 2017.
Mereka mengikuti Latihan dua kali dalam seminggu. Latihan dilakukan di kantor desa, atau di tempat mana pun.
“Sebenarnya untuk keamanan, harus memakai matras. Tapi kami sengaja tak pakai matras, dengan tujuan agar tidak manja, dan lebih tangguh,”ungkap Rizaludin, yang kini juga sudah menjadi pelatih.
Cara latihan yang terbiasa dengan “medan keras” di lantai semen atau hanya tanah, terbukti membuat mereka bisa meraih jawara. Mereka meraih juara I pada Fetival Bakuntau se HST yang diselenggarakan Pemkab HST bekerjasama dengan Kompak Borneo APPSBI HST Januari 2022 lalu.
Kuntau sendiri, selain menampilkan jurus dengan tangan kosong, juga ada yang menggunakan alat tongkat yang disebut toya.
Untuk para pemain pun ada spesifikasi khusus. Seperti Fatina Kamal, selain bisa jurus tangan kosong, juga menguasai jurus pakai tongkat yang cukup membahayakan jika tak berhati-hati memainkannya.