Berita Banjarmasin

Tolak Kenaikan Harga BBM Subsidi, Ribuan Buruh di Kalsel Pastikan Unjuk Rasa

Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kalimantan Selatan (Kalsel) mengonfirmasi rencana demonstrasi pada pekan depan.

banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaitul Riki
Ketua FSPMI Kalsel, Yoeyoen Indhrto. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Gelombang penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Banjarmasin terus terjadi.

Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kalimantan Selatan (Kalsel) mengonfirmasi rencana demonstrasi pada pekan depan.

Tak sendiri, FSPMI bakal menggelar unjuk rasa bersama Aliansi Pekerja Buruh Banua, termasuk para driver ojek online.

“Massa diperkirakan 1.000 sampai 1.500 orang,” ujar Ketua FSPMI Kalsel, Yoeyoen Indharto kepada Bpost, Selasa (6/9/2022).

Baca juga: Monitoring Kenaikan BBM di Tapin, Kapolres Imbau Tidak Ada Panic Buying

Baca juga:  Sorot Kenaikan Harga BBM Bersubsidi, Pakar Hukum Sebut Pemerintah Tergesa-gesa

Yoeyoen menilai kebijakan pemerintah menaikan harga BBM bukan solusi yang tepat, di saat warga berproses memulihkan ekono pascapandemi.

Di sisi lain, pemberian Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp600 ribu pun tak sepadan dengan potensi dampak dari kenaikan BBM.

Sebab selain memicu terkereknya bahan pokok yang lain, kata Yoeyoen, pemberian BSU tidak menyasar seluruh kaum pekerja.

Pasalnya, mereka yang mendapat subsidi gaji tersebut hanya yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan.

“Sedangkan anggota FSPMI Kalsel yang belum terdaftar BPJS Ketenagakerjaan mencapai 200 orang. Belum lagi, pekerja nonformal,” tukasnya.

Dalam aksi nanti, kaum buruh bukan hanya menolak kenaikan tarif BBM subsidi.

Baca juga: Pastikan Penerima Bansos Tepat Sasaran, Kadinsos Kotabaru : Kades dan RT Bisa Verifikasi Faktual

Baca juga:  Ambruk Terseret Truk Trailer Alat Berat, Jembatan Gantung di Tabalong Sudah Kembali Difungsikan

Yoeyoen mengatakan pihaknya juga akan menuntut kenaikan upah pada tahun depan.

Kisarannya diangka 10 hingga 15 persen.

“Lebih efektif seperti itu, dibandingkan menaikkan harga BBM, terus memberi bansos yang kebanyakan tidak tepat sasaran,” tegasnya.

Aksi penolakan kenaikan harga BBM bersubsidi bukan hanya di Kalsel, namun menggema secara nasional.

Pada Selasa (6/9/2022), massa dari kelompok buruh melaksanakan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI Jakarta Pusat.

Aksi serupa juga terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia.

( Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)

 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved