Religi

Makna dan Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW, Ustadz Adi Hidayat Urai Secara Bahasa dan Istilah

Penceramah Ustadz Adi Hidayat menjelaskan makna dan hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi adalah merujuk pada hari kelahiran.

Penulis: Mariana | Editor: M.Risman Noor
Biro Adpim Setdaprov Kalsel
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1444 hijriah di ruang induk Masjid Raya Sabilal Muhtadin di Banjarmasin, Rabu (28/9/2022). Ustadz Adi Hidayat menjelaskan tentang pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Penceramah Ustadz Adi Hidayat menjelaskan makna dan hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dikatakan Ustadz Adi Hidayat, maulid Nabi adalah merujuk pada hari kelahiran bukan perayaan ulangtahun Rasulullah SAW.

Karena itu, Ustadz Adi Hidayat mengatakan sebagai umat Islam harus memahami jika maulid bukan perayaan.

Kini masuk bulan Rabiul Awal 1444 Hijriyah yang dikenal dengan bulan maulid, bulan ketiga sistem kalender Islam.

Tradisi yang berkembang di Tanar Air adalah memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap masuk Rabiul Awal.

Baca juga: Manfaat Buah Tin Dijabarkan dr Zaidul Akbar, Menjaga Kesehatan Tubuh Hingga Antikanker

Baca juga: Solusi Atasi Pertengkaran Suami Istri, Ustadz Khalid Basalamah Ingatkan Bangun Komunikasi

Umumnya acara maulid Nabi digelar di tempat keagamaan umat Islam, mesjid atau mushalla.

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan secara bahasa maulid berarti waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW.

"Kalau disebut maulud, itu adalah bayi yang dilahirkan, dalam konteks ini Nabi SAW maka bayi Nabi Muhammad SAW. Jika disandingkan dengan kalimat Maulidun Nabi adalah waktu lahirnya Nabi," jelas Ustadz Adi Hidayat dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube Cahaya Islam.

Ia pun menyebut jika maulid Nabi tidak ada hukumnya, sebab bagaimana bisa melekatkan hukum saat waktu lahirnya Nabi SAW.

Kelahiran seseorang tidak ada hukumnya, qadarullah menjadikan seseorang terlahir, dan dengan kelahiran itu dia punya misi dalam kehidupan mencari bekal untuk kembali kepada Allah SWT.

"Hukum terletak pada perbuatan, bukan pada benda dan waktu. Perbuatan yang dilekatkan pada waktu dan benda maka akan keluar hukumnya," paparnya.

Yang melekat pada hukum sikap kita menyikapi kelahiran itu, itu poinnya, jika ada yang menentang maulid Nabi maka keluar dari Islam sebab menentang hari kelahiran Nabi SAW.

Bahkan Nabi Isa As yang lahir 600 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW ikut bahagia saat mendengar kabar kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As memanjatkan doa setelah membangun bangunan tinggi, meminta kepada Allah mengutus rasul yang dilahirkan di sekitaran ka'bah.

"Hasil penelitian tidak ada satupun rasul yang lahir di dekat ka'bah, kecuali Nabi Muhammad SAW," urainya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved